Belajar = BORING atau BERMAIN?

posted in: Family | 0

Mau sedikit sharing mengenai pengetahuan yang aku dapatkan saat berbicara dengan Dr. Deborah Weber PhD, beliau adalah Director, Early Childhood Development Research yang terbang dari Amerika untuk menjelaskan mengenai pentingnya bermain terhadap perkembangan otak anak. Karena bermain itu sesungguhnya proses belajar lho.

 

Wait, bermain = belajar? Kayanya ini bukan konsep yang nyambung di benak kebanyakan orang tua, terutama yang tumbuh dengan celetukan seperti, “ayo jangan banyak main, belajar dulu,” dan sejenisnya yang membuat kita berpikir, belajar >< bermain, alias belajar = BORING!

 

Padahal banyak penelitian menunjukkan, proses belajar yang efektif (dan membangun kecintaan terhadap belajar atau istilahnya adalah Life Long Learning) terjadi saat anak mengalami langsung (hands on experience) yang ia lakukan secara sukarela dan fun.

 

Bermain itu merangsang PCS pada anak sejak usia dini. PCS bukan singkatan Pisces yang kebetulan adalah horoskop aku hoho, si moody dan tukang mimpi. PCS adalah singkatan dari Physical, Cognitive dan Social Emotions. Lihat nih tabelnya, ada panduan tonggak perkembangan PCS atau milestones sesuai usia. Aku tekankan kata panduan ya, karena menurut Dr. Deborah, semua anak itu unik dan berkembang pada pace masing-masing (pace itu adalah waktunya sendiri, bukan yoi pace’ apalagi yang pahit-pahit di siomay… Itu pareeee.)

Fisher Price early childhood development milestones

 

Terus, kalau ngomong usia dini, memangnya dari usia berapa anak bisa dirangsang PCS nya? Ternyata dari newborn lho! Karena usia dini atau early childhood itu adalah 0 sampai 5 tahun. As simple as melatih genggaman bayi 3 bulan. Secara nggak sadar, kita orang tua sudah melakukan berbagai rangsangan PCS dalam interaksi sehari-hari. Bayangkan, bagaimana efeknya kalau kita meluangkan lebih banyak waktu lagi untuk sekedar bermain bersama anak.

 

Intinya, orangtua jangan terlalu banyak mengatur atau intervensi. Biar saja ia explore secara alamiah. Kalau kepentok dan terlihat frustasi, bolehlah dibantu DENGAN BENTUK PERTANYAAN BIMBINGAN. Heh, apalagi ini pertanyaan bimbingan? Macam guru BP. Maksudnya, jangan langsung memberi solusi, tapi bimbing ia untuk memikirkan solusi lain. Misal, mau membangun blocks tapi jatuh terus, “coba deh kita tukar blocks-nya. Kalau yang lebih gede di bawah, kira-kira bangunan kamu lebih kuat nggak?”

 

Eh ngomong-ngomong bermain building blocks, ternyata itu adalah salah satu bentuk pembelajaran STEM. Ok, sebentar ya, karena ini konsep penting banget untuk memastikan anak kita tumbuh menjadi dewasa yang sukses. Boleh lho di-sounding saat kumpul dengan ibu-ibu playgroup agar kamu dianggap sebagai Mamud yang update hihihi. STEM itu singkatan dari Science, Technology, Engineering dan Mathematics. Beraaaat, nggak jadi ah cerita sama ibu playgroup. Ntar dipikir emak ambisius lagi. Eh, tapi nggak begitu lho. Ini bukan nyuruh anak piyik hitung Sin, Cos, Tan dan apalah istilah yang bikin aku menyesal mengambil jurusan A1 saat SMA; ini adalah (lagi-lagi) bermain yang secara alamiah akan merangsang otak mereka untuk memahami konsep-konsep STEM.

 

Bedakan dengan calistung ya. STEM tidak berarti mendikte anak harus bisa berhitung, tetapi konsep berhitung akan terbentuk saat ia bermain dengan mainan yang banyak bagiannya. STEM tidak memaksa anak menulis, tetapi melatih motorik halus agar nantinya fasih memegang pensil. Nah STEM ini dipelajari anak saat ia bermain dengan mainan yang dirancang khusus untuk menstimulasi keingintahuannya pada keempat aspek itu. Dan bukan mainan elektronik saja lho seperti Code-A-Pillar yang sedang dimainkan Delmar, tetapi juga mainan tradisional seperti building blocks. Memang, mainan yang didesain khusus dengan STEM (si Code-A-Pillar ini dirancang oleh Dr. Deborah dan timnya lho!) “mengajarkan” anak melakukan coding, sequencing dan programming! Wuih macam nantinya bisa bikin aplikasi sendiri (permisi Om Nadiem Makarim) atau membangun roket. Padahal yang ia lakukan hanya melepas-menyambung-memencet bagan-bagan dari si mainan gemay ini.

 

 

Makanya, coba tengok boks mainannya (dan juga lungsuran dari si kakak) dan kamu akan terkejut betapa banyak mainan yang bisa mengajarkan STEM. Dan kalau ia ulang tahun atau dijanjikan reward, it’s OK lho dibelikan mainan (selama ini kan mainan itu kesannya buang-buang uang karena sudah punya banyak, atau daripada mainan mendingan beli buku) tapi pilihlah mainan yang bisa mengasah STEM-nya.

 

Mainan sudah ada, yuk main! Berikut tips yang aku dapatkan dari Dr. Deborah agar dapat memaksimalkan playtime:

 

1. Atensi penuh.

Cari momen yang pas dimana anak dan ortu bisa memberikan atensi penuh untuk bermain. Which leads us to the next crucial point

 

2. Singkirkan gadget.

Selama ini prihatin kan dengan ketergantungan gadget berikut segala bahaya bagi anak. Well then, umpetin dulu. Menurut Dr. Deborah, anak akan penasaran dengan segala hal yang ada di sekelilingnya, dan anak itu juaranya mencontoh. Ya kalau melihat ortunya sibuk main hp, otomatis anak akan curious dan ingin bermain dengan that bright thing di tangan Mamanya. I know, penting ya posting foto lagi main dengan anak dengan caption menggugah dan tagar #qualitytime, tapi habis posting taro jauh-jauh dulu sebentaaar saja.

Demikian kalau si kecil lagi main dengan pengasuh. Biasakan si mbak menyingkirkan dulu gadget. Toh kalau ada apa-apa bisa menggunakan telepon rumah.

Menurut para ahli, anak boleh diperkenalkan kepada gadget (screen time) jangan lebih muda dari usia 18 bulan! Dan kalau mau main gadget, jangan lebih dari 1 jam per hari. Uh oh. Aku sama kok dengan Mamudmaskin lainnya yang hanya bisa menunduk sambil garuk-garuk saat membaca ini. OK tenang, kita mulai dengan nawaitu

 

3. Biarkan mengalir.

Playtime yang merangsang kecintaan terhadap life long learning adalah yang self-initiated dan unstructured. Maksudnya anak yang mengajak, dan anak yang mengatur ingin mainnya seperti apa. Sudah deh ikutin saja. Jangan rempong bikin peraturan, penalti apalagi persaingan ketat siapa yang lebih rapih menyelesaikan puzzle (kompetitif banget ya emaknya?

 

4. Pertanyaan bimbingan.

Seperti yang dijelasin tadi ya ibu BP, eh ibu-ibu. Kalau anak nggak bisa-bisa, jangan take over biar playtime capcus kelar. Biarlah ia mencari solusi lain, karena ini mengasah critical thinking. Dan ingat ya, dalam bermain tidak ada benar atau salah. Setiap kegagalan adalah kesempatan belajar.

 

5. Pesan sponsor.

Bermain juga adalah sarana bonding. Saat inilah anak lebih terbuka terhadap berbagai “pesan sponsor” seperti nilai kehidupan. Misal, “habis main kita beresin sama-sama yuk,” atau pesan yang lebih personal seperti, “kalau ditanya nenek, bilang Mama selalu di rumah ya dan rajin masak dan bersih-bersih di rumah ya,” oh tidak itu menghasut namanya hahaha

 

6. Have fun!

Memangnya yang belajar sambil bermain itu anaknya saja? Orangtuanya juga, lagi! Menjadi orangtua adalah proses belajar, dan setiap anak itu berbeda. Jadi nikmatin saja prosesnya karena masa kecil anak itu hanya sekali dan nggak bisa di-rewind seperti video Youtube favoritnya.

 

Sudah ah ngetiknya, aku mau main sama Delmar dulu.

 

Happy playing, folks!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *