Heels Saat Hamil

posted in: Fashion & Beauty | 0

Beberapa kali aku posting foto sedang bekerja mengenakan dress cantik dan sepatu hak tinggi, ada yang bertanya: memangnya boleh ya Mama hamil pakai heels?

 

Memang kalau sedang shooting atau ngemsi, aku pakai baju yang disediakan tim wardrobe dan heels (sepatu hak tinggi). Apalagi kalau dipasangkan co-host yang menjulang, seperti Jevier Justin yang tingginya 185 cm, atau pakai dress panjang yang memang harus dipadankan dengan hak tinggi.

Kalau aku, selama empat kali kehamilan, Alhamdulillah aman-aman saja bekerja menggunakan heels. Bahkan salah seorang dokter ketika melakukan USG bisa langsung tahu bahwa aku suka pakai hak, karena menurutnya di bagian dalam kandungan aku ada “kapalan”. Hah, kapalan? Serem amat?

 

“Bahaya nggak dok?” tanyaku agak panik.

 

“Nggak kok, tidak mengganggu kehamilan sama sekali. Ini hanya cara badan kamu menyesuaikan dengan kebiasaan pakai hak tinggi,” jelas dokter.

 

Pheww, aman. Tapi memang aku sendiri tidak pernah memusingkan pakai hak. Toh durasi shooting hanya satu jam, dan kalau ngemsi tidak lebih dari dua jam. Itupun banyak kesempatan untuk duduk. Jadi buat aku pribadi, dari segi kenyamanan, OK-OK saja pakai hak tinggi. Begitu sudah selesai bertugas, langsung kembali ke sepatu teplek.

 

 

 

Tapi tentu kondisi setiap Mama berbeda. Seorang teman yang sedang program hamil, dilarang dokternya menggunakan hak tinggi. Memang ia pernah beberapa kali keguguran sehingga wajar bila dokternya strict memastikan kondisi kandungannya tidak terganggu.

 

Kalau pakai heels, beban tubuh yang sebelumnya didistribusikan ke seluruh telapak kaki, hanya disanggah oleh pad of foot (bagian depan telapak). Dan berat badan Mama hamil kan bisa belasan hingga duapuluh-an kilogram lebih berat dari berat asli Mama.

 

Belum lagi kalau hamil volume darah bertambah 50% dari semula, dengan pembuluh darah yang lebih besar untuk mengakomodir transportasi darah (makanya Mama hamil mudah terluka seperti gusi berdarah) dan sirkulasi darah yang melambat. Alhasil kaki menjadi bengkak (edema) dan menggunakan hak akan membuat kaki semakin bengkak. Makanya banyak Mama mengeluh ukuran sepatunya bertambah, dan ada yang ukurannya tidak kembali ke semula walau sudah melahirkan!

 

Tubuh juga memproduksi hormon progesterone dan relaksin yang membuat persendian makin longgar sehingga resiko kecetit atau keseleo semakin tinggi. Dan perut Mama yang semakin besar membuat centre of gravity berpindah, sehingga pinggang makin sering sakit, mengalami kram (grrr, paling kesel pagi-pagi bangun, ngulet, kemudian betis kram!), dan Mama cenderung menjadi lebih cereboh dan mudah jatuh. Hii, ngeri juga ya kalau nggak biasa pakai hak.

 

Selain itu, yang dikhawatirkan dari Mama hamil (terutama yang kandungannya lemah), ada banyak acupoint di telapak kaki. Itulah alasan mengapa Mama hamil dilarang refleksi. Ada tiga titik pada kaki yang bisa mengakibatkan kontraksi, dan bahkan saat mendekati lahiran, titik-titik tersebut sengaja dipijat untuk merangsang kontraksi. Ketiga titik itu adalah:

 

  1. Spleen 6 point (SP6) atau Sanyinjiao.

Lokasinya di sisi belakang betis, tepatnya empat jari di atas matakaki. Kalau pakai hak, memang betis suka merasa pegal termasuk di daerah ini.

 

  1. Bladder 60 point (BL60) atau Kunlun.

Lokasinya di antara mata kaki dan tumit, masih di sisi belakang kaki.

 

  1. Bladder 67 point atau Zhiyin.

Lokasinya di pinggir kaki, tepatnya sisi luar kelingking.

 

Sumber: https://www.healthline.com/health/pregnancy/acupressure-points-inducing-labor#takeaway

 

Tapi bagi Mama yang terbiasa memakai heels dan tidak ada keluhan, jangan lantas jadi paranoid. Banyak kan Mama hamil (terutama di Hollywood) yang tetap tampil anggun pakai heels.

 

Jadi kesimpulannya, kalau Mama tidak ada masalah dengan kandungan, tidak apa-apa sesekali pakai heels. Pilihlah heels yang lebar dan kokoh atau berbentuk wedges. Kalaupun harus pakai hak runcing atau stiletto, jangan lama-lama, dan siapkan sendal atau sepatu teplek untuk berganti begitu merasa pegal. Atau Mama bisa bereksperimen memadupadankan dress dengan sneakers yang memang lagi tren.

 

Aku selalu bawa sepatu ballerina flats yang bisa dilipat dan meletakkannya di dalam tas ganti (berikut dengan jas hujan, kalau mendadak harus naik gojek dan hujan – hohoho, sepertinya topik berikutnya adalah “Mama hamil naik motor”).

 

Leave a Reply