Mau Punya Adik!

posted in: Family | 0

Salah satu hal yang ditanyakan orang-orang seputar kehamilanku ini adalah bagaimana respon kakak-kakaknya mau punya adik?

 

Well, kalau anak pertama, Nadine, sudah berusia 12 tahun dan layaknya ABG sedang sibuk dengan kehidupannya sendiri. Begitu tahu aku hamil dan ia akan punya adik perempuan lagi, ia nyeletuk “pregnant again? Oh My God, there’s going to be another Nuala,” ujarnya dengan rolling eyes dan gaya teenager Selatan-nya.

 

Anak kedua, Nuala, yang Desember nanti berusia 9 tahun, lebih excited. “Yay, her birthday is going to be near my birthday!” dan langsung lah bahas ulang tahun dia dan baby N bakal bagaimana… lengkap dengan kado-kado yang mereka (baca: dia) mau.

 

Nah yang anak ketiga ini nih yang beda. Delmar saat ini berusia 2 tahun 3 bulan. Saat adiknya nanti lahir, ia akan berusia 2 setengah tahun. Still a baby! Bahkan Delmar masih menyusu dan sedang enak-enaknya kruntelan.

 

 

Untunglah ini adalah anak ketiga dan keempat. Kalau anak pertama terbayang deh aku baper, sedih membayangkan perhatian yang saat ini sedang tercurahkan untuk Del, harus dibagi dengan bayi baru.

 

Aku bahkan baca beberapa posting di Instagram, seperti @reviejane, CrossFitter yang baru melahirkan anak keduanya, sampai menangis dan merasa bersalah karena merindukan momen mesra dengan anak pertamanya yang masih balita juga.

 

Like I said, karena ini anak ketiga dan keempat, aku lebih santai. Karena aku mengalami sendiri proses dan progresi seorang newborn tidak berdaya yang begitu attached dengan kita, lambat laun menikmati dan berinteraksi dengan dunia sekelilingnya. Dependency atau ketergantungannya akan berkurang, tapi tidak demikian dengan bondingnya. Kadarnya sama (bahkan lebih) hanya saja berubah bentuk. Sama kakak Nadine misalnya, yang sudah punya dunia sendiri, kami menikmati “dunianya” dengan hosting playdate, pergi ke salon berdua, dan belanja baju.

 

Delmar juga sekarang lebih mandiri. Ia sudah punya “geng”nya sendiri di sekolah, rutinitas main sore di kompleks dengan tetangga, permintaan untuk pergi “shopping” dan jalan-jalan. Ya, aku rasa Del tidak akan kesulitan menerima adik bayi sebagai bagian dari rutinitasnya.

 

Dan thanks to technology, aku sering ajak Del menonton video Youtube tentang bayi. Setiap kontrol ke dokter juga Del pasti ikut. Walau dia mungkin tidak paham sepenuhnya, tapi perlahan kami tanamkan konsep ada “baby sister” di dalam perut Mama. Nuala juga ikut mempersiapkan Del dengan koleksi boneka baby alive. Gemas deh melihat Del menggendong si boneka dengan halus. Tapi begitu bosan bayinya dilempar, hahaha. Err, nanti jangan begitu yaa.

 

Sekarang Del suka menyapa perut aku, “hai baby sister”. Aduuuh, meleleh nggak sih?

 

 

Beruntung juga aku punya support system yang begitu mendukung. Suami aku, Dastin, adalah tipe suami dan bapak yang hands on. Selalu terlibat dalam segala urusan anak-anak. Kedua kakak juga selama ini sigap membantu mengurus Delmar (dan terbukti saat kami liburan berempat saja ke Bali – Dastin berhalangan menyusul karena meletusnya Gunung Agung), semuanya under control kok. Malah kakak-kakaknya menjadi lebih paham tanggung jawab. Demikian dengan keluarga besar dan kedua ART-ku dan supir.

 

So, to recap, berikut hal yang bisa Mama lakukan untuk mempersiapkan si kakak menyambut kehadiran adik bayi:

  • Bicarakan dengan kakak. Walau ia mungkin belum paham sepenuhnya, terus katakan bahwa apapun yang terjadi Mama dan Daddy akan selalu sayang dengan si kakak. Fokus juga pada kegiatannya, agar ia tidak merasa semua obrolan adalah seputar bayi yang akan segera lahir.
  • Ajak si kecil terlibat dalam semua persiapan, seperti kontrol ke dokter. Ceritakan juga, dulu kakak yang tinggal di dalam perut Mama.
  • Proyeksikan keseruan punya adik melalui pengalaman Mama atau anggota keluarga lain. Seru lho punya adik! Seperti punya best friend yang bisa sharing mainan, liburan bersama, dan lain-lain. Gunakan juga karakter kartun yang biasa ia nonton (atau vlog Youtube) mengenai kekompakan kakak-adik.
  • Simulasikan keseruan punya bayi baru dengan boneka.
  • Kalau beli barang untuk adik bayi, beli barang untuk si kakak juga, seperti baju kembar! Dan beritahukan kepada keluarga, saat lahiran nanti, jangan lupa bawa kado untuk kakak juga. Tidak perlu sesuatu yang besar, cukup hal kecil seperti buku gambar, coklat, atau apapun itu, agar ia tidak fokus dengan kado-kado untuk bayi.
  • Bagi tugas dengan support system. Selama Mama di rumah sakit, si kakak bisa sleep over di rumah om-tantenya dengan sepupunya yang lain. Make it into a holiday!
  • Rencanakan kegiatan seru dengan si bayi nanti, misal liburan pertama. Lumayan kan kalau beli tiket pesawat di travel fair dari sekarang.

 

We are all super excited to see baby N di Januari 2019 nanti. Kita bahkan sudah merencanakan liburan pertama kita berenam ke Inggris, sekaligus mengantar kakak Nadine dan Nuala kompetisi tari tradisional di Llangollen International Music Festival bersama sanggar GCN (Gema Citra Nusantara).

 

Next on the schedule, USG 4D… biar bisa kelihatan baby N mirip siapa yaaa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *