Perencanaan Finansial Untuk Awal Yang Baik

posted in: Family, Fun & Passion | 1

Baru saja selesai Facebook Live dengan Lactamil dan Jouska sebagai bagian dari Lactamil Mama Class. Seru banget lho! Aku menjadi moderator (sekaligus konsultasi hihihi) dengan Indah Hapsari Arifaty, Head Financial Planner dan co-founder Jouska – perusahaan konsultan keuangan untuk personal (follow IG @Jouska_id deh, seru dan bermanfaat banget banget postingannya) dan Tasya Kamila yang baru menikah bulan Agustus lalu.

 

 

Walau ditargetkan bagi pasangan yang baru menikah (newlyweds) dan tengah menanti kehadiran si kecil, bagi aku yang sudah menikah 14 tahun juga merasa kesentil (baca: ketampar) beberapa kali lho. Tapi beruntunglah Indah mengatakan bahwa tidak pernah ada kata telat untuk memulai menata keuangan; dan apapun rencana finansial kita, harus selalu direvisi dan di-update sesuai dengan keadaan dan harapan.

 

Beberapa pertanyaan yang umum yang muncul pada pasangan yang baru menikah antara lain:

  • Bagaimana mengatur keuangan setelah berumah tangga?
  • Bagaimana mengatur tabungan sendiri maupun bersama?
  • Bagaimana cara menyisihkan dana darurat?
  • Bagaimana penerapan skala prioritas yang tepat?
  • Berapa persen penghasilan yang harus ditabung untuk si Kecil?

 

Yuk kita bahas!

 

 

First Thing First

 

Paling pertama adalah harus terbuka dengan pasangan. Iya dong. For better for worst. Sekarang waktunya terbuka dengan pasangan mengenai kondisi keuangan dan target atau cita-cita, serta bagaimana cara mencapainya. Saat masih pacaran, rasanya tabu atau nggak enak menanyakan pacar mengenai penghasilannya. Begitu menikah, harus terbuka. Tidak jarang percikan-percikan muncul begitu ada masalah keuangan.

 

Menurut Indah, bagi pasangan menikah harus ada fondasi yang kuat. Dalam perencanaan keuangan, ada 3 fondasi dasar untuk memulai financial planning:

  1. Current Financial Statement.

Terbuka pada posisi keuangan, yaitu:

  • aset apa saja yang dimilki,
  • hutang,
  • penghasilan,
  • dan pengeluaran.
  1. Risk Profile.

Resiko yang dimaksud bukan dari karakter, melainkan pekerjaan.

Apakah Papa dan/atau Mama memiliki pekerjaan tetap dengan THR, fasilitas pinjaman, asuransi kesehatan, dll, ataukah adalah freelancer?

Usia juga termasuk risk profile. Mungkin beda usia antara Mama dan Papa cukup jauh, sehingga perlu sesegera mungkin

Resiko lain adalah kondisi sekitar atau ring 1… alias keluarga.

Di budaya kita, dianggap sebagai kewajiban untuk menanggung orang tua di hari tua. Inilah yang dinamakan dengan “sandwich generation”, dimana menanggung kehidupan generasi atas dan bawah. Belum lagi kalau ada keluarga lain yang menggantungkan hidupnya pada kita.

Tentu saja ini tidak apa-apa, adalah hal yang sangat baik berbakti pada keluarga, yang penting masuk perhitungan dan tidak mengganggu cash flow keluarga inti Mama Papa.

  1. Cash flow management.

Yaitu cara teknis mengatur pemasukan dan pengeluaran. Ada 3 tipe:

  • Ours account.

Semua penghasilan di-pool di 1 rekening dan 1 orang tersebut yang dominan (biasanya istri yaa yang menjadi “Menteri Keuangan”) yang mengelola semua pengeluaran, termasuk menjatahkan uang untuk suami.

  • Yours and mine account.

Rekening terpisah. Mama dan Papa memiliki tugas dan tanggung jawab yang terpisah. Misal Papa membayar cicilan rumah, mobil, dan asuransi. Sementara Mama yang mengurus kebutuhan logistic rumah tangga, listrik, air, dan kebutuhan anak.

  • Yours, mine, and ours account.

Sama seperti yang sebelumnya, tapi ada 1 rekening bersama yang khusus untuk tabungan.

Mana yang paling bagus? Semuanya sama bagus. Tergantung karakter masing-masing. Dan cash flow management ini bisa berganti-ganti.

 

 

Membuat Prioritas

 

Atau financial priority. Setelah mencatat semua informasi tersebut, lanjut perencanaan dengan kebutuhan serta keinginan pasti banyak banget. Agar bisa tercapai, perlu ditentukan mana yang perlu diprioritaskan.

Menurut Indah, ada dua hal yang wajib diprioritastan sebelum membahas hal lain seperti rumah, liburan, dan lain-lain:

  1. Dana darurat.

Bentuknya likuid atau mudah dicairkan, misal dalam bentuk tabungan. Cash is King, people!

Dana darurat adalah dana yang bisa digunakan kapan saja saat ada kebutuhan darurat, dan Mama Papa perlu memastikan dana minimum yang wajib ada, barulah boleh merencanakan goals lain seperti liburan.

Cara mengitung dana darurat adalah dari penghasilan tahunan bersama (termasuk bonus, THR, dan semua uang masuk) dan sisihkan 25% dari penghasilan tahunan tersebut. Banyak ya. Eits, nggak semudah itu. Tetap perlu ditambah dengan kovarian. Kovarian adalah faktor pengali berdasarkan risk profile yang dijelaskan di atas. Misal, ada orang tua sakit kritis, Papa mendekati usia pensiun, dan lain-lain.

  1. Asuransi.

Kalau Papa dan/atau Mama adalah pegawai tetap, biasanya mendapat asuransi kesehatan. Bila tidak, maka wajib membuat asuransi kesehatan sendiri. Kadang kita suka lupa juga bahwa orang tua tidak diasuransikan, padahal merekalah yang lebih rentan sakit dan perlu dirawat. Kalau sudah begitu, mau tidak mau adalah anak yang harus mengurus. Jadi kalau tidak memungkinkan membuat asuransi untuk orang tua, maka dana darurat perlu diperbesar.

Jangan lupa juga asuransi lain seperti asuransi jiwa, asuransi hari tua/pensiun, dan tentunya asuransi pendidikan untuk anak.

 

Barulah setelah itu prioritasnya adalah goals. Apa sih yang menjadi goals Mama dan Papa? Goals itu ada jangka pendek dan jangka panjang. Pendek seperti liburan tahunan, tas yang pengen banget dibeli, dan seterusnya. Jangka panjang contohnya adalah rumah.

 

 

Hamil dan Melahirkan

 

Bagi pasangan, punya anak tentu adalah cita-cita yang ingin segera diwujudknya. Seharusnya sebagai bagian dari promil, juga dipersiapkan perencanaan finansial untuk meng-cover biaya kontrol, melahirkan, dan biaya-biaya lain.

 

Pertama-tama cek dulu apakah di-cover oleh asuransi/fasilitas di kantor Mama dan Papa; dan seberapa besar. Kalau tidak dicover, persiapkan secara manual. Melahirkan itu kan sudah jelas jangka waktunya. Dengan jendela 9 bulan, cukup waktu untuk menyisihkan semua biaya setiap bulannya. Bagi yang bekerja, pasti “kena” THR dan/atau bonus yang bisa membantu menambah pundi atau pos melahirkan.

 

Tips dalam mempersiapkan dana hamil dan melahirkan:

  • Bagi Mama dan Papa yang baru menikah, begitu mendapat “angpaw”, jangan langsung dihabiskan untuk bulan madu, dp mobil/rumah. Sisihkan juga untuk tabungan hamil/melahirkan (walau belum ada rencana mau langsung punya anak setelah menikah) karena angpaw itu adalah modal awal.
  • Siapkan dana tertinggi. Misal berencana melahirkan normal, tetap saja harus persiapkan sesar.
  • Siapkan juga dana darurat bila (ketok ketok) si kecil begitu lahir harus masuk NICU atau perlu disinar karena menderita kuning (kuning atau jaundice adalah hal yang cukup lumrah yang terjadi pada newborn lho).
  • Hitung juga biaya kontrol bulanan, beli suplemen/vitamin yang diresepkan dokter, beli Lactamil, membeli perlengkapan si kecil (apalagi kalau anak pertama), dan lain-lain.
  • Kalau mau mengadakan acara seperti pengajian empat bulanan, acara tujuh bulanan, baby shower, maternity photoshoot, disesuaikan dulu dengan budget.
  • Kalau setelah dihitung-hitung ternyata menyisihkan uang setiap bulan nggak kekejar, upayakan “soft loan” dari orang tua atau keluarga.

 

Beberapa persiapan ini kan bersifat antisipasi ya Mama, seperti persalinan sesar dan NICU, Manakala Mama tetap melahirkan normal, si kecil juga usai melahirkan tidak ada komplikasi dan bisa segera pulang, artinya ada kelebihan dari dana yang telah dipersiapkan! Hore! Ini bisa digunakan untuk investasi atau membeli push present untuk diri sendiri!

 

** Mama kalau mau tahu biaya apa saja yang perlu dipersiapkan buat persalinan, tulis di kolom komentar yaa. Akan aku buatkan artikel khusus dengan daftar harga kebutuhan melahirkan masa kini. **

 

Ohya, satu tips lagi, bila ada teman yang mau memberikan kado, Mama bisa mengarahkan ke baby registry sehingga ada daftar jelas apa yang Mama butuhkan. Kalau kebutuhannya besar seperti stroller atau car seat, Mama bisa minta tolong salah satu teman untuk mengumpulkan dana. Bagi orang tua, bisa juga lho meminta kado untuk si kecil dalam bentuk tabungan/investasi ataupun asuransi pendidikan!

 

Psst, ini dan banyak tips lain ada di buku aku “Little Thoughts Book on Baby Shower” yang Mama bisa beli di bagian “Shop My Books”.

 

 

Debt management

 

Serapih-rapihnya rencana, akan ada momen dimana tidak match up atau kekurangan dana. Kalau sudah kepepet begini boleh berhutang nggak? Boleh saja, tapi selalu jaga porsinya.

 

Menurut Jouska, dalam debt management, yang dihitung adalah budget dan bukan persentase. Berhutang, terlebih untuk konsumsi sehari-hari, sangat tidak disarankan. Bila ada keperluan mendesak, cobalah dicari alternatif lain seperti menjual aset atau pinjaman bunga rendah dari “angel investor” seperti orang tua, atau soft loan khusus karyawan. Kalau kepentok banget, mau nggak mau pinjaman KTA atau menggunakan kartu kredit, tapi pastikan sifatnya “bridging” saja dan akan ada dana masuk yang melunasi. Jangan sampai terbuai dengan limit tinggi dan hanya membayar minimum, karena bunganya akan berbunga lagi.

 

Sebagai ilustrasi, bunga kartu kredit per bulannya nyaris 3%. Per tahun 36%! Kalau hanya bayar minimum kegulung deh.

 

Hutang adalah janji, dan sekali miss pembayaran, urusannya panjang. Salah-salah bisa di-blacklist dan riwayat kredit dicatat oleh BI. Sekalinya masuk daftar tersebut, akan sangat sulit untuk mendapatkan KPR dan pinjaman lain. Hutang juga akan diwariskan. Ingat ya, kita sedang berusaha memutus siklus “sandwich generation” agar anak-anak kita nanti tidak akan terbebani.

 

 

Investasi

 

Mama tahu kan ya bedanya tabungan dengan investasi? Kalau tabungan bersifat lebih likuid (mudah dicairkan dan dipergunakan), sementara investasi bersifat jangka menengah dan panjang yang sebaiknya jangan diutak-atik karena untuk masa depan.

 

Contohnya adalah investasi untuk mempersiapkan dana pendidikan si kecil. Kalau untuk jangka pendek seperti preschool, disiapkan dalam tabungan. Untuk cita-cita nantinya menyekolahkan di sekolah internasional atau universitas tertentu, maka tentu butuh instrumen yang bisa mengejar kenaikan biaya pendidikan. Pendidikan di Indonesia mengalami kenaikan sekitar 10%-15% setiap tahun. Bunga deposito hanya 5%-6% dipotong pajak pula. Makanya harus dalam bentuk investasi agar “kekejar”.

 

Investasi masih merupakan sesuatu yang mendapat prioritas terakhir. Biasanya baru mikirin investasi kalau ada sisa di tabungan ya, hihihi. Padahal menurut Jouska, seharusnya menjadi kebiasaan setiap ada ada uang menyisihkan untuk investasi dulu, baru kewajiban lain, baru deh sisanya dinikmati. “Harusnya kita spending yang tersisa dan bukan menginvestasikan yang tersisa,” jelas Indah.

 

Ini semua mengenai habit. Nggak apa-apa jumlahnya kecil-kecilan. Reksadana saja aja lho yang mulai dari Rp 250.000. Jadi boleh nih mulai sekarang, kita biasakan menyisihkan sedikit dari penghasilan untuk investasi.

 

Investasi bentuknya juga macam-macam. Tasya misalnya yang sudah memiliki penghasilan sedari dulu sebagai penyanyi cilik, memilih menginvestasikan dalam properti. Memang waktu beli, mungkin jumlahnya tidak seberapa atau lokasinya kurang menarik. Tapi 10-15 tahun kemudian, valuenya meningkat! Wah kalau investasi lancar, bisa liburan terus dong ya (pas banget seperti lagunya Tasya, “libur telah tiba”… hore!).

 

 

Liburan

 

Aduuh, ngomongin duit jadi pusing! Perlu refreshing alias liburan! Boleh dong! Apalagi bagi generasi milenials yang senang “piknik” dan mendapat pengalaman baru (sambil posting di media sosial tentunya) yang bisa membuat terinspirasi dan meningkatkan produktifitas.

 

Liburan adalah bentuk spending yang unik, karena jumlahnya besar, jangka waktu persiapannya singkat, dan habis tak bersisa secara cepat juga. Karena biasanya liburan itu dilakukan setidaknya 1 kali dalam setahun, maka sebaiknya diambil dari penghasilan tahunan (misal dari bonus atau THR). Kalau tidak ada, lagi-lagi manual, sisihkan tiap bulan.

 

Ada dua tipe mempersiapkan dana liburan:

  • Set lokasi dan hitung biayanya agar tahu tiap bulan harus sisihkan berapa.
  • Nabung saja. Nanti dekat-dekat liburan dilihat ada berapa dan barulah menyesuaikan destinasinya.

Sebenarnya ada juga tipe ketiga, yaitu tergantung penawaran paling menarik dari travel fair, hahaha. Apalagi dengan iming-iming bisa dicicil dengan kartu kredit. Yang penting dananya memang ada dan tidak mengganggu cash flow keluarga. Ingat ya, dana darurat dan asuransi tidak boleh terganggu!

 

 

Semua bisa direncanakan. Mumpung masih muda, produktif, dan bergairah, it is never too late untuk menata keuangan. Jangan paksakan, tapi sesuaikan! Punya keinginan boleh, tapi punyalah keinginan yang terukur. Dan implementasikan secara konsisten. Walk the talk! Dan ingat bahwa kondisi keuangan itu dinamis dan perlu direvisi sesuai situasi. Saat bergejolak, ada dana darurat. Saat karir dan kondisi keuangan Mama dan Papa semakin tinggi, ada dana lebih besar untuk investasi dan konsumsi.

 

Money is not everything, but everything needs money… and planning!

 

 

Thanks again to Tasya Kamila, Indah Hapsari Arifaty dan Jouska, tim Lactamil yang milenials dan gesit banget, dan tentunya para Mama yang mengikuti Facebook Live kali ini.

 

Kalau mau lihat rekamannya, bisa klik ke https://www.facebook.com/lactamilmama/videos/2030071760365241/ atau https://www.facebook.com/lactamilmama/videos/275195559782815/ atau browsing ke www.lactamil.co.id dan ke videos. Nanti kalau sudah ada link di youtube aku update yaa!

 

Sampai jumpa di Facebook Live bersama Lactamil berikutnya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *