Alergi Pada Anak

posted in: Family | 0

Jumat 16 November kemarin, Cerita Ibu Cerdas (CIC) mengadakan acara Sharing and Fun Discussion dengan tema Alergi Pada Anak di Birds & Bees, jl. Hang Lekir, Jakarta Selatan.

 

Komunitas yang sudah berdiri sejak pertengahan 2017 ini diinisiasi oleh Fairus Iloet dan hingga kini tercatat ada 110 peserta dalam grup Whatsapp Cerita Ibu Cerdas, sebut saja Ashanty, Melaney Ricardo, Nagita Slavina, Sarwendah, dan Putri Marino. Menurut Intan RJ, salah satu anggota CIC yang aktif sejak awal, “Kami ingin ada wadah untuk saling bertukar pengalaman parenting. Kumpul-kumpul yang bermanfaat dan bisa menambah ilmu, nggak sekedar arisan atau end up-nya ngomongin orang,” jelas Intan sambil tertawa.

 

Menambah ilmu itu pasti, karena setiap berkumpul kerap diisi dengan mengundang pakar membahas topik yang dekat dengan dunia parenting (dan berlimpah goodie bag dan doorprize!). Kali ini, temanya mengenai Alergi Pada Anak dan dihadiri oleh sekitar 65 peserta, seperti dr. Reisa Kartikasari, Eriska Rein, Joanna Alexandra, Dian Ayu, Cynthia Ganesha, Enno Lerian, Chua Kotak, Jennifer Arnelita, Intan Nuraini, Magdalena, Mikaila Patritz, Nina Zatulini, Ui Birowo, juga teman-teman dari media. Pastinya para mamud ini antusias bertanya seputar alergi, karena ternyata banyak yang memiliki pengalamannya sendiri. Sst, ternyata kasus alergi mengalami peningkatan lho. Berdasarkan data Center for Disease Control and Prevention (CDC), angka kejadian alergi meningkat tiga kali lipat sejak 1993 hingga 2006. Hal ini selaras dengan data dari World Allergy Organization (WAO) 2011 yang menunjukkan prevalensi alergi terus meningkat dengan angka 30%-40% populasi dunia.

 

Yuk ikuti penjelasan DR. dr. Nita Ratna Dewanti Baboe, SpA dari RS Premier Bintaro.

 

 

Dimulai dengan definisi alergi. Alergi adalah respon abnormal dari sistem imun tubuh saat ada benda asing masuk. Pencetus alergi (alergen) berbeda bagi setiap penderita, demikian dengan reaksi tubuhnya. Ada yang ringan, ada yang mematikan!

 

Alergen bisa berupa zat, benda, maupun organisme yang mencetus alergi pada seseorang, seperti bulu binatang, jamur, tungau, debu, serbuk sari. Saat masuk ke sistem tubuh, imunitas memberi sinyal untuk melindungi tubuh, seperti memproduksi lendir atau menyempitkan saluran pernafasan agar alergen tersebut tidak kian masuk ke dalam tubuh.

 

Pada anak, biasanya timbul pada usia 2 tahun (walau ada yang menunjukkan tanda-tanda alergi sejak bayi) yang dapat menyerang berbagai organ tubuh. Dalam kadar tertentu, dapat mengganggu tumbuh kembangnya. Misalnya penyerapan nutrisi menjadi tidak optimal, atau anak mengalokasikan kalori (tenaga) untuk melawan alergi, sehingga ia kekurangan kalori untuk beraktifitas. Alhasil anak menjadi kurus dan lemas. Alergi pada anak jika tidak ditangani dapat berlanjut hingga dewasa dan meningkatkan resiko penyakit degeneratif!

 

Apa saja faktor yang meningkatkan resiko alergi? Secara umum ada tiga:

  1. Riwayat alergi pada keluarga,
  2. Kelahiran sesar,
  3. Polusi udara.

 

Maksudnya riwayat alergi pada keluarga, hitung-hitungannya seperti ini.

  • Bila Mama dan Papa alergi, maka kemungkinan si kecil alergi juga adalah 40%-60%.
  • Bila Mama dan Papa alergi terhadap hal yang sama, maka kemungkinannya meningkat menjadi 60%-80%.
  • Bila hanya salah satu yang alergi, kemungkinan si kecil alergi 20%-30%.
  • Bila orang tua tidak alergi tetapi memiliki anak lain yang alergi (bisa saja gen alergi ini datang dari anggota keluarga lain), kemungkinan si kecil alergi menjadi 25%-30%.
  • Bila kedua orangtua tidak ada riwayat alergi, tetap saja ada kemungkinan alergi 5%-15%.

 

Lalu bagaimana mengetahui apakah anak menderita alergi? Kenali gejalanya dan ketahui alergennya.

 

Alergi pada saluran pernafasan.

Ditandai dengan hidung gatal berair, tersumbat, sering bersin, batuk berulang, mata merah berair, lingkaran gelap di bawah mata, dan bernafas melalui hidung saat tidur.

Alergi seperti ini banyak disebabkan oleh debu, tungau, atau hal-hal lain yang bersembunyi di kasur, bantal, boneka, karpet, dan lain-lain yang bisa terbang dan dihirup. Untuk itu, sering jemur kasur dan bantal, dan hindari penggunaan karpet atau boneka dekat anak.

Banyak terjadi pada anak di bawah 5 tahun.

 

Alergi pada kulit.

Kulit merupakan organ tubuh yang terbesar sekaligus barrier atau pelindung pertama tubuh dari ancaman luar. Alergi pada kulit dikenal dengan istilah dermatitis atopik atau eksim atopik, dan gejalanya adalah permukaan kulit yang kering, merah, bersisik, seperti eksim, bisa juga disertai pembengkakan. Lokasinya pun khas; seperti di pipi, siku, atau lutut.

Ada juga dermatitis kontak atau alergy on contact, seperti kuping atau leher memerah bila menggunakan perhiasan dari perak atau imitasi (artinya Mama hanya bisa pakai perhiasan minimal emas yaa hihihi, good excuse). Bisa juga reaksi saat menggunakan kosmetik yang mengandung kimia alergen.

Gejala alergi yang muncul pada kulit adalah pertanda si kecil sangat alergik, dan bisa menyerang bayi sejak usia 2 bulan hingga berusia 2-10 tahun, bahkan lanjut hingga dewasa. Untuk mengurangi dampaknya, saat mandi gunakan sabun dan perawatan kulit dengan pH netral, saat handukan ditepuk-tepuk saja dan jangan digosok, sering ganti popok, dan gunakan deterjen yang aman untuk kulit sensitif.

 

Alergi dingin.

Suka berasa norak saat liburan ke daerah dingin kemudian muncul bentol-bentol di kulit seperti kaligata? Atau menjadi pilek, hidung mengalir, nafas grok-grok, hingga berbuntut asma? Hihihi, nothing to be ashamed of. Ini adalah gejala alergi akibat suhu dingin! Apalagi kondisi kering yang semakin memperparah kulit manakala digaruk.

 

Alergi obat.

Inilah mengapa setiap sebelum ada tindakan oleh dokter, akan ditanyakan alergi terhadp obat apa. Alergi ini cukup parah akibat hasil pelepasan histamin. Bisa terjadi anafilaksis dan gejalanya segera, seperti sesak nafas, kulit kebiruan, pingsan, nadi cepat, mual, tekanan darah drop, dan lain-lain.

 

Alergi binatang.

Kalau si kecil memperlihatkan gejala alergi setiap habis bermain dengan si pus atau si guguk,  bisa jadi ia alergi terhadap air liur, urin, bulu, maupun sel kulit mati dari binatang peliharaan.

Kalau sudah begini, terpaksa dijauhkan atau bahkan berikan binatang peliharaan ke anggota keluarga lain atau shelter. Masalahnya, walau binatang tersebut sudah tidak didekat si kecil, dampaknya masih bisa memberi efek hingga 1 tahun karena bersisanya alergen pada perabotan rumah.

 

Alergi makanan.

Ini adalah jenis alergi yang paling umum dikenal. Yaitu gejala dari gumoh, kolik, kulit atopik/eksim, diare, hingga BAB berdarah! Yang muncul saat mengonsumsi susu sapi, telur, kacang-kacangan, kedelai, gandum, ikan, kerang, dan jeruk.

Protein susu sapi termasuk yang banyak menimpa anak-anak. Sebuah penelitian menyatakan 1 dari 12 anak alergi susu sapi. Fakta lain menunjukkan bahwa anak kecil yang alergi susu sapi, memiliki resiko asma lebih tinggi.

 

 

Tadi disebutkan bahwa ada alergi yang kadarnya mematikan. Ini disebut dengan anafilaksis dan gejalanya segera. Hanya 5-30 menit setelah kontak dengan alergen (biasanya makanan, gigitan binatang seperti lebah, obat-obatan, lateks), maka akan menimbulkan respon seperti saluran pernafasan menyempit (sesak nafas), tekanan darah menurun, pingsan, dan lain-lain. Kalau diketahui ada resiko seperti ini, maka penderita harus selalu sedia obat-obatan atau segera dilarikan ke rumah sakit untuk menerima suntikan epiferin (epi-pen).

 

Tapi di sisi lain, Mama jangan menjadi serba takutan dan steril. Apalagi jika belum confirm apakah anak alergi. Anak juga perlu memperkuat imunitas (kemampuan alami tubuhnya untuk melawan alergan) dengan dipaparkan pada berbagai kondisi.

 

Lalu bagaimana ya caranya menurunkan resiko alergi pada anak? Selain dengan persalinan normal, lakukan IMD segera setelah bayi lahir, dan berikan ASI secara eksklusif selama 6 bulan lalu lanjut selama si kecil mau dengan MPASI yang bervariasi.

 

Dulu, bagi anak dengan resiko alergi tinggi, disarankan menunda pemberian susu sapi dan produknya hingga 1 tahun, telur hingga 2 tahun, dan kacang serta seafood hingga 3 tahun.Namun berbagai studi mematahkan ide lama tersebut.

 

Seperti sebuah studi di 2008[1] yang mempelajari anak-anak usia 4-18 tahun yang alergi terhadap kacang menemukan bahwa mereka yang diperkenalkan pada kacang di usia muda (sekitar 1 tahun) justru memiliki prevelansi alergi yang lebih rendah (0.17%) dibanding dengan yang ditunda pemberian makanan yang mengandung kacang (1.85%) atau 10 x lebih rendah! Temuan lain seperti di Swedia menemukan bahwa anak yang mendapatkan ikan dalam menu MPASI memiliki resiko alergi yang lebih rendah[2]. Studi di Australia juga mendapatkan bahwa anak yang sudah diperkenalkan pada telar sejak usia 4-6 bulan memiliki resiko alergi lebih rendah dibanding anak yang diperkenalkan telur di usia 1 tahun[3].

 

Demikian dengan studi “Dietary Exposures and Allergy Prevention in High-Risk Infants” dari the Canadian Paediatric Society dan the Canadian Society of Allergy & Clinical Immunology[4] yang menyatakan: tidak ada manfaat menunda pemberian makanan berpotensi alergi (seperti susu, telur, kacang, atau ikan) sejak anak berusia 6 bulan. Demikian dengan Mama hamil dan menyusui, dietnya harus bervariasi dan jangan pula membatasi konsumsi makanan berpotensi alergi.

 

Alhasil para pakar kesehatan anak mengganti rekomendasinya menjadi memberikan MPASI dengan segala jenis makanan secara bertahap. Kalaupun anak menunjukkan gejala seperti kolik, lakukan tes eliminasi provokasi, yaitu memperkenalkan makanan berpotensi alergi dengan jarak sekitar seminggu kepada makanan berpotensi alergi lainnya. Misalnya hari Senin berikan nasi tim salmon, dan beberapa hari ke depan lihat reaksinya. Sepanjang masa pengamatan, jangan memberikan makanan berpotensi alergi lainnya. Kalau sudah clear anak tidak alergi terhadap salmon, maka Senin minggu depannya berikan telur, dan seterusnya. Ini dilakukan hanya untuk mengidentifikasi alergi. Setelah itu variasi makanannya agar anak tidak picky.

 

 

Masuk deh ke sesi tanya jawab. Langsung mengacung tangan-tangan para Ibu Cerdas sampai dr. Nita kewalahan. Untung beliau dengan sabar menjawab satu demi satu. Simak deh beberapa pertanyaan yang sering ditanya seputar alergi pada anak:

 

Q. Apa beda alergi dengan iritasi atau gejala yang dipicu oleh virus/bakteri?

A. Yang namanya hidung meler karena mau pilek adalah hal yang banyak terjadi pada anak, terlebih jika masih berusia 5 tahun ke bawah, sedang ada wabah batpil (batuk pilek), atau pancaroba. Tapi jangan sampai Mama menganggap ini pilek biasa, padahal adalah alergi, sehingga penanganannya salah. Perhatikan dulu gejalanya. Gejala yang diakibatkan alergi bersifat khas dan ada pola. Misal terjadi pada momen tertentu (pagi atau malam hari) dan tidak disertai demam dan peradangan. Bila ternyata bukan alergi dan adalah infeksi virus atau bakteri, maka perlu diberikan obat yang sesuai (infeksi bakteri perlu ditangani dengan antibiotik tepat sesuai instruksi dokter dan dikonsumsi hingga habis).

 

Q. Apakah setiap anak menunjukkan gejala alergi harus ke dokter?

A. Maksudnya adakah cara biar kita tidak masuk ke golongan emak-emak parno? Lagi-lagi Mama harus memperhatikan gejalanya, dan lakukan tata laksana alergi:

  • Menghentikan/menghindari hal-hal yang dicurigai sebagai allergen,
  • Mengatasi reaksi yang terjadi.
  • Melakukan identifikasi/tes alergi. Seperti skin prick test (tes cukit kulit), uji tempel kulit, atau mengukur kadar imunogobulin E (IgE) spesifik dalam darah, atau melakukan uji eliminasi-provokasi. imunogobulin E adalah antibody yang berperan pada proses alergi.
  • Memberikan terapi yang sesuai.
  • Pada beberapa kasus dapat dilakukan desensitisasi.

 

Q. Katanya kalau anak alergi pada sesuatu, perlu dikasih terus alergen agar tubuhnya akhirnya bisa membentuk imunitas sendiri.

A. Ini namanya adalah desentisisasi atau membuat kebal. Kalau gejala ringan, boleh dilakukan secara bertahap dan mulai di atas usia 1 tahun. Namun kalau tahapan alerginya parah (anafilaksis), maka jangan coba-coba.

 

 

Itulah dia acara Sharing and Fun Discussion kali ini. Para Ibu Cerdas langsung semangat membahas acara dengan tema selanjutnya. Lebih semangat lagi saat diberikan banyak goodie bags dari para sponsor. Thank you yaa! Semoga ilmu yang dibagikan bermanfaat dan membuat kita semua menjadi Ibu Cerdas dengan anak-anak yang sehat!

 

 

Terima kasih kepada:

  • Birds & Bees Baby @birdsnbeesbaby
  • Cybex @cybexindo
  • Attipas @attipas_indonesia
  • Ju.Ju.Be @jujubeindonesia
  • iBerry
  • Mustela Indonesia @mustelaindonesia
  • Manquet @manquet.id
  • Nutressa Catering @nutressa_catering
  • BNI Life @bnilifeid
  • Beauty Barn Indonesia @beautybarnindonesia
  • RS Premier Bintaro @rspremierbintaro
  • Hometown Dairy Fresh Milk @hometowndairy.id
  • Technoplast @technoplast_id
  • Fiber Creme @fibercreme
  • UNITEI
  • KALCare @kalcare
  • Kids area by Coby Haus Indonesia @cobyhausindonesia

 

 

[1]Du Toit G, Katz Y, Sasieni P, Mesher D, Maleki SJ, Fisher HR, et al. Early consumption of peanuts in infancy is associated with a low prevalence of peanut allergy. J Allergy Clin Immunol. 2008;122(5):984–91.

 

[2]Kull I, Bergstrom A, Lilja G, Pershagen G, Wickman M. Fish consumption during the first year of life and development of allergic disease during childhood. Allergy. 2006;61(8):1009–15.

 

[3]Koplin JJ, Osborne NJ, Wake M, Martin PE, Gurrin LC, Robinson MN, et al. Can early introduction of egg prevent egg allergy in infants? A population-based study. J Allergy Clin Immunol. 2010;126(4):807–13.

 

[4]Chan ES, Cummings C, Canadian Paediatric Society. Community Paediatrics Committee and Allergy Section Dietary exposures and allergy prevention in high-risk infants: a joint statement with the Canadian Society of Allergy and Clinical Immunology. Paediatr Child Health. 2013;18(10):545–54.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *