USG 4D

posted in: Family | 0

Kesampaian juga USG 4D baby ke-4 di usia kehamilan 30 minggu. Terakhir USG 4D dengan dr Bambang Karsono, SpOG(K) 12 tahun lalu waktu hamil Nadine! Namanya juga anak pertama. Pas hamil kedua dan ketiga, boro-boro! Yang penting hasil kontrol dan USG 2D baik-baik saja.

 

 

Ya, memang USG 4D masuk ke dalam salah satu tindakan yang dilakukan oleh dokter Obgyn subspesialis Fetomaternal. Sub spesialisasi ini tujuannya screening/mendeteksi/mendiagnosa kelainan pada janin (fetus) maupun ibu (materna), terlebih bila ada resiko gangguan janin (misal positif toksoplasma) atau kehamilan resiko tinggi (usia kehamilan 35 tahun ke atas), agar dapat ditangani sedini mungkin.

 

Lalu apa bedanya USG biasa 2D dengan 4D? Dimensi keempat apa sih? Waktu sehingga bisa melihat si kecil di masa yang akan datang? Not like that. USG biasa adalah dua dimensi yaitu tampilan dalam potongan satu bidang. Sementara USG 4D adalah tampilan tiga dimensi (terlihat lebih realistik karena ada depth atau volume) yang terjadi secara realtime. Jadi Mama bisa melihat gerak gerik si kecil seperti mengempeng, senyum, buka tutup mata, dan lain-lain.

 

USG 4D sebaiknya dilakukan saat usia kandungan memasuki 20 minggu. Ini sebagai upaya screening atau mendeteksi apakah ada masalah dengan janin (knock on wood). Namun bagi aku (dan kebanyakan mamudmaskin lainnya) USG 4D dilakukan pada usia kehamilan 7 bulan atau 24-28 minggu, yaitu saat janin sudah lebih besar dan aktif, namun posisinya masih sungsang/menghadap ke atas sehingga bisa melihat wajah si kecil dengan dengan jelas.

 

Tapi keep in mind, bisa melihat wajah si kecil itu hanyalah “bonus”. Jangan heran kalau ada dokter fetomaternal yang kesal kalau Mama semata-mata ingin melihat wajah bayi lebih mirip siapa. Aku pribadi punya pengalaman kurang mengenakkan dengan seorang dokter fetomaternal senior. Saat itu aku sedang hamil Delmar dan usiaku sudah 36 tahun. Seharusnya 35 tahun keatas tergolong high risk, maka aku memeriksakan pada dokter ini. Hmm, sepertinya ia terbiasa menangani kasus yang complicated, sehingga ketika mendapati kehamilanku yang ternyata lancar dan sehat-sehat saja, ia seperti mencari-cari kemungkinan terburuk! Aduh kebayang tidak Ma… sedang hamil, terlentang di meja pemeriksaan, dan seorang dokter dengan ekspresi suram melihat ke layar sambil berkomentar “jantung sih kelihatan baik-baik saja, tetapi bisa saja bla, bla, bla” dan banyak lagi scary stories yang beliau ceritakan yang membuat aku dan suami malah depresi mendengar berbagai “kemungkinan” yang ternyata (Alhamdulillah) tidak satupun terwujud. Kamipun tidak ke beliau lagi, dan memilih untuk mendengarkan kata-kata menyemangati dari dr. Rama Tjandra yang melahirkan Nadine dan Nuala, dan juga membantu Delmar lahir dengan sehat dan sempurna.

 

Itulah pentingnya mencari dokter yang satu “getaran” dengan kita dan bisa membuat nyaman. Untuk USG 4D kali ini, aku membuat jadwal dengan dr. Eva Roria Silalahi, SpOG (K), dokter fetomaternal di Brawijaya Women and Children Hospital.

 

 

Hari itu, suami sengaja izin dari kantor, dan kami mengajak Nadine, Nuala, dan Delmar untuk ikut melihat adik mereka di layar USG. Setiba di Brawijaya Women and Children Hospital, aku diperiksa di Mom’s Journey Corner layaknya check up rutin (tensi darah dan berat badan) karena sesi ini sama seperti konsultasi bulanan.

 

Selama sekitar 1 jam, Dr. Eva dengan teliti memeriksa tubuh baby N; setiap organ vital sampai ke jari jemari untuk mencari ada tidaknya kelainan, sambil menjelaskan dengan detail namun dengan bahasa yang mudah dipahami. Jujur saja, setiap melihat raut dr. Eva berubah serius sambil memicingkan matanya meneliti layar, jantungku berdegup kencang. Please God, let my baby be healthy. Alhamdulillah dr. Eva menyampaikan kabar-kabar yang menenangkan. Baby N sehat dengan berat 1.561 kilogram di usia 30 minggu.

 

Setelah all is clear, now is the fun part. Melihat wajah baby N! Sayangnya baby N camera shy. Ia terus menutupi wajahnya dengan tangan ala-ala artis ketangkap paparazzi hahaha. Sambil menunggu baby N “berpose” untuk kamera USG 4D, dr. Eva lanjut memeriksa ukuran kepala, perut, jumlah katup jantung, jumlah jari, kondisi air ketuban, aliran darah (nutrisi) dari plasenta melalui tali pusat, apakah terlilit tali pusat, dan lain-lain. Akupun terus berupaya agar ia bergerak atau setidaknya menurunkan tangannya. Handstand, sujud, minum kopi… ternyata yang paling ampuh adalah mengelus perut sambil mengajaknya bicara. Sekejap kami bisa melihat wajah baby girl kami, yang sempat membuka dan menutup matanya. Sepertinya ia mirip dengan teteh Nuala. Benarkah? Well, we just have to wait in see in a few more months.

 

 

Berikut beberapa tips untuk memaksimalkan USG 4D:

  • Tentukan waktunya. Bahas dengan obgyn untuk menentukan kapan waktu terbaik. Seperti yang dijelaskan di awal, bila ada indikasi, dokter mungkin akan menyarankan Mama melakukan screening di awal kehamilan. Kalau semua OK dan Mama ingin melihat wajah si kecil, usia 7 bulan adalah momen yang cocok karena umumnya posisi si kecil masih sungsang (kepala di atas dan menghadap keluar), wujudnya sudah sempurna, dan ia sedang aktif-aktifnya bergerak.
  • Cari tempat paling tepat untuk USG 4D, berikut dengan operatornya. Obgyn juga dapat mereferensikan tempat serta dokter untuk melakukan USG 4D. Pastikan bahwa operatornya adalah dokter dengan subspesialiasi fetomaternal (jangan obgyn saja apalagi dokter umum), mubazir kalau alatnya sudah canggih namun operatornya tidak dapat menginterpretasikan hasilnya secara optimal.
  • Buat jadwal in advance. Jadwal dokter fetomaternal biasanya sibuk, jadi wajib booking beberapa minggu sebelumnya.
  • Jika memungkinkan, sesuaikan dengan momen si kecil sedang aktif-aktifnya. Mama pasti hafal ya momen ia sedang “tidur” dan “bangun”, kalau belum, Mama perlu membuat jadwal kick chart (akan aku posting soon cara membuatnya). Biasanya setelah makan siang dan mendapat asupan nutrisi dari Mama, ia akan aktif bergerak!
  • Bawa cemilan manis (misal coklat) atau minuman manis, untuk merangsang gerakan si kecil kalau ia malu-malu menutup wajahnya.
  • Tanyakan biayanya dan apakah di-cover asuransi. Seringkali rumah sakit mengadakan paket atau harga promosi. Tanyakan juga apa saja yang Mama dapatkan: biasanya satu map berisikan seluruh hasil pengujian, beberapa lembar foto dan CD.
  • Karena biaya yang cukup tinggi, Mama berhak mendapatkan pelayanan yang memuaskan. USG 4D memakan waktu kurang lebih 1 jam, jadi jangan ragu bertanya pada dokter dan memeriksakan semua organ tubuh si kecil, plasenta, tali pusat, dan sebagainya.
  • Jangan lupa ajak suami (dan anak-anak lain, ibu, ibu mertua… eh jangan deng, nanti ruang pemeriksaan full). Toh Mama akan mendapatkan berlembar-lembar foto USG serta sekeping CD yang dapat Mama pamerkan kepada keluarga besar.

 

 

Biaya USG 4D Di Brawijaya Women and Children Hospital sekitar Rp. 1.500.000; lebih kurang sama dengan beberapa lokasi lain. Memang biaya yang cukup tinggi terlebih mengingat dalam beberapa bulan perlu mempersiapkan biaya persalinan. Namun screening fetomaternal penting untuk memastikan Mama, janin, dan kandungan baik-baik saja. Peace of mind. Karena bila Mama tenang dan yakin bahwa kehamilan sehat, tentu akan membuat pengalaman kehamilan semakin menyenangkan.

 

Jika ingin melihat vlog aku periksa USG 4D, silakan lihat YouTube Nadia Mulya, atau klik link https://youtu.be/gy087CBsiSA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *