Di PHP HPL

posted in: Family | 6

Momen-momen terakhir menjelang HPL (Hari Perkiraan Lahir) menurutku adalah yang paling “berat”. Bukan karena perut semakin besar, kandungan semakin menekan jalan lahir (sehingga Mama mengalami rasa pegal yang amat sangat pada kemaluan atau dikenal dengan vaginal pressure), bolak balik kamar mandi, makin susah tidur, makin kepikiran momen melahirkan nanti akan seperti (dan sesakit) apa… bukan karena itu. Tapi lebih karena dibombardir pertanyaan dari keluarga, teman, dan siapapun (bahkan orang asing tidak sungkan bertanya) mengenai KENAPA BELUM LAHIR JUGA.

 

 

Iya sih niatnya baik. Tapi bayangkan, dengan kondisi hamil besar, lama kelamaan cape juga sih ya menjelaskan satu per satu.

 

Ini yang aku alami. Saat ini kehamilan sudah mundur 1 minggu dari HPL yang terlanjur aku share dengan keluarga, teman, dan followers. Alhasil banyak yang bertanya. Beberapa diantaranya menyertakan “diagnosa” seperti “lho kan sudah anak keempat, harusnya lebih cepat”, “harusnya sudah lahir. Ini sudah turun banget”, hingga “buru-buru deh dikeluarin. Sesar saja!” Dan tidak sedikit yang menambahkan “bumbu” cerita horror mengenai kehamilan yang terlampau tua berikut komplikasinya.

 

Di sisi lain, Alhamdulillah aku banyak mendapatkan komentar serta DM positif dari followers yang mengalami hal yang sama. Ternyata banyak juga lho persalinan yang mundur hingga kehamilan 42 minggu, dan toh akhirnya bayi lahir baik-baik saja. Banyak juga yang memberi saran bagaimana cara untuk mempercepat kontraksi alami. Awww, thank you so much ya supportnya!

 

Adalah komentar seperti ini yang memberiku semangat. Karena sampai sekarang aku masih mengupayakan persalinan normal, walau barusan periksa lagi dengan dokter dan beliau agak khawatir dengan ukuran baby N yang tampak besar (dan semakin besar).

 

Tapi aku berusaha fokus dan memberi afirmasi positif padaku dan baby N. Bayilah yang paling tahu momen dan jalan terbaiknya untuk lahir. Mama hanya bisa terus mengupayakan agar kesampaian cita-cita melahirkan normal, lancar, nyaman, dan cepat. Jadi aku harus bisa balance antara KEYAKINAN MELAHIRKAN NORMAL vs PASRAH PADA “JALAN” YANG TUHAN SUDAH TETAPKAN.

 

Salah satu hal yang membuat momen ini “berat” bagi sebagian Mama adalah karena tidak akuratnya HPL. Ya namanya juga estimasi. Perlu Mama ingat bahwa momen konsepsi (pembuahan) saja adalah estimasi berdasarkan tanggal subur yang dihitung dari HPHT (Hari Pertama Haid Terakhir). Nyatanya, tidak semua wanita memiliki siklus haid yang teratur sehingga estimasi masa subur bisa meleset. Ditambah fakta bahwa pembuahan bisa terjadi sebelum atau sesudah masa subur. Itulah mengapa ada kemungkinan meleset plus minus dua minggu dari HPL.

 

Sedikit cerita, HPL aku sendiri mengalami perubahan. Apalagi ketika melihat ukuran janin yang besar, otomatis estimasi usia kandungan (dan HPL) berubah. Awalnya diperkirakan HPL 4 Januari (tapi karena ukuran bayi besar dan kehamilan keempat, maka aku sudah siaga sejak akhir Desember – malah ngarepnya lahiran pas tahun baru). Tapi sejak HPL itu lewat, saat kontrol selanjutnya, dr. Diana Mauria SpOG di RS Brawijaya melihat lagi semua catatan dan menghitung mundur, hingga akhirnya muncul HPL 8 Januari. BTW, menurut dr. Diana, HPL paling akurat adalah pada kehamilan usia 10 minggu 3 hari sampai 13 minggu. Menurut informasi online, Bila pemeriksaan USG dilakukan pada 7–11 minggu, ukuran bayi saat itu belum terlalu besar sehingga dokter bisa mengukur kepala sampai kaki (crown rump length atau CRL) dalam satu bidang. Lewat dari 11 minggu, kesalahannya adalah plus minus 7–10 hari. Sementara kalau USG baru dilakukan pada trimester kedua, kesalahannya sudah plus minus 2–3 minggu. Kalau dilakukan pada trimester ketiga, kesalahannya sudah plus minus 3–4 minggu. Jadi, semakin besar suatu kehamilan, semakin tidak akurat untuk menentukan usia kehamilan atau taksiran persalinannya.

 

OK 8 Januari. Menghitung hari… hingga lewatlah tanggal tersebut. Duh, di-PHP-in HPL nggak enak banget lho. Beberapa sahabat berusaha cheer me up dengan mengatakan, “baby N nunggu tanggal cantik. 10.01 kali, atau 11.01. Nanti bisa bikin plat mobil B 111 N lhoo.” Hihihi, iya juga ya, terhibur aku. Hinggal tanggal 11 datang dan pergi tanpa ada kontraksi. Padahal tanggal 11 pagi aku melakukan acupressure di pro V Clinic-nya Mami Lanny Kuswandi, dan berharap banget bisa memicu kontraksi alami. Beberapa teman menceritakan metode tersebut berhasil, dan merekapun melahirkan keesokan harinya!

 

 

Usai acupressure, aku diminta oleh dr. Diana melakukan USG FDJP (Fungsi Dinamik Janin Plasenta)  dengan dokter fetomaternal dr. Damar Prasmusinto, SpOG(K) di RS Brawijaya. Di situ dr. Damar melakukan pemeriksaan USG layaknya sesi USG 4D dan dilanjutkan dengan mendata CTG janin; dan menemukan bahwa semua fungsi janin dan plasenta bagus. Air ketuban masih banyak, posisi bayi sudah OK, jantung bagus, aliran darah di plasenta juga lancar… mungkin terlalu lancar sehingga baby N diprediksi beratnya sudah 4 kilogram! Oh no!

 

Memang ini menjadi concern dr. Diana dari pemeriksaan beberapa minggu lalu. Walau dr. Damar mengatakan tidak perlu khawatir karena bisa saja meleset 10% lebih kecil dari estimasi USG (terlebih ini anak perempuan), tapi tetap saja aku menjadi khawatir. Apalagi ketika dr. Diana mengatakan resiko melahirkan secara normal bayi makrosomia (diatas 4 kilogram) adalah distosia bahu. Huhuhu. Terbayang dong galaunya aku sekarang seperti apa.

 

So saat ini, tengah malam memasuki tanggal 12, aku hanya bisa curhat pada suami sambil terus memberi afirmasi bahwa aku bisa melahirkan normal! Ikthiar terus!

 

Besok aku akan periksa dengan dr. Diana lagi dan melihat kemungkinan dibiarkan hingga terjadi kontraksi alami, diinduksi, atau terpaksa dilakukan sesar. Bismillah. Kembali afirmasi positif dan yakin bahwa baby N sudah menentukan kapan dan bagaimana dia akan hadir ke dunia ini. Can’t wait to see you and hold you in my arms baby girl!

 

Mohon doanya yaaa

6 Responses

  1. Dewi Riati Oelie

    Semoga lahiran lancar ya mba Nadia, dan terbaik untuk mba dan baby N, amin 🙇‍♀️🤗

  2. Flavia

    Semangat mbak Nad. Pasti bisa
    Lancar trus.nyaman n tenang trus.
    Babynya pinter bgt koq

    • mamudmaskin

      Yesss setuju. Baby pintar dan sudah mengatur momen dan jalan terbaiknya! 🙂

Leave a Reply