Welcome Nilouh Alessandra

posted in: Uncategorized | 0

Kalau membaca postingan sebelumnya, pasti tahu betapa galaunya diriku karena baby N tidak kunjung lahir. Begitu galaunya sampai semalam sebelum konsultasi dengan dr. Diana, aku dan suami ngobrol hingga pagi, mempersiapkan diri untuk kemungkinan operasi Caesar.

 

12 Januari 2019.

10.00. Konsultasi dengan dr. Diana.

Aku didampingi suami dan Mama bertemu dengan dr. Diana. Berdasarkan hasil USG dengan dr. Damar (Fetomaternal) kemarin, dr. Diana khawatir dengan ukuran bayi yang diperkirakan 4079 gram! Pemeriksaan juga menunjukkan lingkar kepala (HC) 35.61 cm dan radius kepala (BPD) 9.87 cm.

 

Dr. Diana menjelaskan bahwa citra di USG bisa plus minus 10%. OK lah kalau minus 10% maka bayi hanya 3.6 kg. Tapi bagaimana kalau melesat ke atas dan bayi 4 kilogram lebih? Beliaupun cross check dengan mesin USG beda, dan angka yang muncul adalah 3.8 kg. Triple check lagi dengan melakukan TBJ (Taksiran Berat Janin) secara old school (zaman tidak ada mesin USG), yakni dengan rumus Lohnson dan rumus Hodge.

 

Berat janin = (tinggi fudus uteri* – 12) x 155 gram

 

*tinggi fudus uteri = jarak dari atas tulang kemaluan hingga ke bagian paling atas rahim yang diraba dokter di bawah dada dan dihitung dengan pita pengukur cm.

 

Angka yang didapatkan adalah 3.8 kg. Masih aman, walau tetap was was mengingat sudah 41 minggu namun belum juga ada kontraksi, sementara air ketuban masih banyak dan bagus, serta tali pusat masih memompa darah yang sarat nutrisi. Semakin lama baby N di dalam, ia akan semakin besar! Kalau terlalu besar dan tetap dipaksakan normal, yang dikhawatirkan akan nyangkut, atau kepala sudah keluar tapi bahu bayi terlalu lebar. Kalau sudah seperti itu, tidak mungkin sesar darurat, dan bayi mungkin mengalami dysplasia bahu atau bahunya patah. Huhuhu, bagaimana tidak galau membayangkan kemungkinan terburuk.

 

Kalau begitu, harus segera melakukan induksi – dengan tetap ada kemungkinan gagal dan harus sesar. Ah induksi, aku ingat saat melahirkan Nadine diinduksi pada bukaan keenam untuk mempercepat bukaan. Rasanya nggak banget! Aku dan Mama sudah pasrah dengan kemungkinan sesar. Tetapi suami yang tahu betul betapa aku ingin melahirkan normal tetap menyemangati aku bahwa ia yakin aku bisa, dan menegaskan ke dr. Diana untuk tetap normal.

 

OK kalau begitu, sebelum induksi, dr. Diana ingin melakukan pemeriksaan dalam untuk memastikan panggul aku cukup lebar in case bayi memang 4 kg ke atas.

 

Aku izin ke kamar mandi dulu. Aku ingat menyemangati diri sendiri sepanjang perjalanan ke kamar mandi. “Bayi sudah menentukan sendiri kok kapan dan bagaimana ia lahir.”

 

Dan ternyata bayi menentukan cerita lain… aku menemukan flek! Yang tadinya lemas langsung semangat dan kembali ke kamar pemeriksaan. Eits, tapi nggak terlalu berharap, terlanjur kapok di-PHP. Aku menahan nafas saat dr. Diana melakukan pemeriksaan dalam.

 

“Sudah bukaan dua!” Hore! Artinya tidak perlu induksi! Wah sepertinya baby N perlu digertak sesar nih! Dr. Diana akan memantau selama 8 jam untuk menilai pembukaan.

 

Maka di hari Sabtu itu, aku ingin bersantai dan tidak terlalu memikirkan. Bukaan awal bisa berhari-hari toh?

 

12.00. Nyalon

If the day is coming soon, boleh dong tampil cantik. Aku dan Mama di drop ke salon untuk cuci blow sambil makan siang. Sambil menyeruput kopi, aku mengaplikasikan make up supaya tetap terlihat segar walau nanti muka tidak kontrol saat dilanda gelombang cinta. Ihiy.

 

 

14.30. Nonton “How To Train Your Dragon 3”

Lanjut ke bioskop komplit dengan anak-anak menonton film animasi How To Train Your Dragon 3. Sambil menghitung berapa kali kontraksi dalam durasi 100 menit. Ah hanya 3 kali, itupun tidak kencang. Bisa-bisa baru besok nih…

 

 

16.00. Keliling Kemang Village

Kontraksi semakin kuat. Mengalihkan perhatian dengan jalan keliling Kemvil dan membeli segala camilan dan beberapa keperluan untuk bersantai di rumah. Rencananya aku dan suami mau nge-bath tub bareng sambil nonton DVD. Katanya berendam air hangat bisa membantu menghadapi nyeri. Aku malam ini mau tidur pulas supaya besok(-besok) saat lahiran ada tenaga. Yakin bener lahirannya nggak hari ini.

 

Saat itu dr. Diana whatsapp mengingatkan untuk balik ke RS Brawijaya dan periksa perkembangan bukaan. Ya sudah deh, mampir dulu.

 

18.00. Ketuban Pecah!

Usai Maghrib, dr. Diana melakukan periksa dalam. Sudah bukaan 4 menuju 5! Saat memeriksa, mendadak ketuban pecah! “Mbak Nadia sudah stay di sini saja ya. Kemungkinan kamu akan melahirkan hari ini.” Hah? Hari ini? Waduh koper semua masih di rumah.

 

Langsung deh masuk battle mode. Mengatur supir mengantar anak-anak pulang, berkoordinasi dengan Mama, mengabarkan ibu mertua, telpon bukaan moment dan Insert. Sebagai host Insert selama hampir 1 dasawarsa, tentu aku setuju melakukan reality momen ini dengan mereka.

 

 

19.00. Bukaan moment

Mba Puput dari bukaan momen hadir dan mulai mengambil foto aku yang masih super santai. Dari main Candy Crush, touch up make up, selfie dengan suami, jalan-jalan keliling ruangan. Tidak lama tim Insert datang dan akupun pakai clip on dan melakukan wawancara.

 

Di tengah wawancara, kontraksi datang. Masih OK. Kontraksi selanjutnya… oh-oh, kuat sekali. “Din, sorry kayanya gue enggak bisa lanjut. Lahiran dulu ya,” kataku sambil melepas dan memberikan clip on ke Dina, Senior Creative Insert, yang terlihat agak khawatir.

 

Akupun naik ke tempat tidur dan diperiksa dalam lagi oleh dr. Diana. “Sudah bukaan 7!”

 

“Semoga sebelum jam 10 sudah lahir ya,” kata bidan.

 

Hah, jam 10, lama amat… “jam 9 deeeh lahirnya,” kataku menawar.

 

 

Mulai dari jam 8 malam, kontraksi semakin dekat dan kuat. Para bidan memonitor CTG (detak jantung janin dan kuatnya kontraksi) sambil aku berupaya tetap santai dan menerapkan ilmu hypnobirthing dengan terus bercanda dan tersenyum saat kontraksi melanda.

 

selfie duluuu…

Lumayan naik berapa level main Candy Crush

Masih bisa senyum…

Salah satu hal yang suka aku lakukan untuk memberi semangat adalah menonton video lahiran di @bukaan.moment

muka mulai tegang

…tapi tetap usaha becanda diantara kontraksi.

Cilukbaa… Daddy ngintip lihat baby crowning

 

Mama dan ibu mertua yang masih penasaran dengan nama si Kecil berusaha “memanfaatkan” momen kontraksi aku dengan memancing namanya. “Coba diberi tahu namanya, siapa tahu kalau dipanggil dia cepat keluar,” bujuk ibu mertua.

 

Di antara nafas, aku bilang, “belum boleh tahuuuu. Sebentar lagiiii.” Sontak semua di dalam ruangan tertawa.

 

Ya, memang suasana persalinan ini sangat “ringan”. Hingga jarum jam melewati pukul 9 malam dan dokter menyatakan, “bukaan sudah lengkap!”

 

21.15. Nilouh Alessandra lahir!

Sekitar 2 jam saja dari bukaan 7 ke bukaan lengkap dan 5 kali mengejan hingga baby girl lahir sehat, sempurna, tidak kekurangan satu apapun. 2 jam sakit intens yang aku sambut dengan senyuman. Dan ternyata betul lho, saat senyum dan tertawa, rasa sakitnya pun berubah. Alhamdulillah persalinan yang aku dambakan terjadi. Afirmasi yang aku berikan selama ini berhasil: persalinan normal, lancar, cepat, nyaman.

 

Tangis bayi perempuanku langsung pecah, dan iapun langsung diberikan dalam dekapanku. “Nah sekarang boleh tahu namanya. Nilouh Alessandramulya Mudijana.” Dan semuapun sibuk mengambil foto dan mengirimkan pengumuman di hp masing-masing.

 

Nilouh lahir dengan berat 3.590 kg dan panjang 50.5 cm. Ah seandainya aku memaksakan sesar, mungkin aku akan kecewa mengetahui ukuran bayi sebenarnya masih bisa aku lahirkan secara normal. Memang semesta sudah mengatur kelahirannya demikian. Aku memang sudah digariskan melahirkan normal. Bukti bahwa bayi yang menentukan sendiri kapan dan bagaimana ia lahir.

 

Sekarang, seminggu kemudian, Nilouh has settled nicely into her home. Menjadi pusat perhatian keluarga dan kakak-kakaknya, menyusu dengan lahap, dan di hari ini pula tali pusatnya puput.

 

Terima kasih ya Allah, telah menitipkan satu lagi keajaiban padaku.

 

 

Terima kasih sekali lagi kepada dr. Diana Mauria SpOG yang seru, komunikatif, dan sarat pengetahuan sehingga membuatku begitu informed dan siap menghadapi kemungkinan apapun. Obgyn yang mau bolak balik direcokin shooting dan wawancara, dan bermake up cantik saat menemaniku partus malam mingguan.

 

Terima kasih kepada Bidan Fitria, Bidan Yusniar, Bidan Vita yang membantu persalinan dan semua bidan di VK serta para suster di nursery.

 

Terima kasih kepada dr. Margareta Komalasari SpA, dokter anak cantik yang aku sudah kenal dari zaman Nuala masih bayi.

 

Terima kasih kepada Brawijaya Women and Children Hospital dengan tim dan staffnya yang hangat dan kamar barunya yang super nyaman jadinya mau extend terus hahaha. Thank you for making my experience so memorable.

 

Terima kasih kepada Mami Lanny Kuswandi, Oma Cahya, dan tim Pro V Clinic yang mengingatkanku bahwa melahirkan itu adalah proses yang paling alami dan menyenangkan; dan bahwa afirmasi bisa diterapkan dalam setiap sendi kehidupan. Karena semesta akan selalu merespon energi positif.

 

Terima kasih kepada Puput dari bukaan moment who captured my most intimate and joyous moment so beautifully. Selama hamil, aku hobi nonton postingan videonya sampai mewek, sekarang aku punya sendiri!

 

Terima kasih kepada semua teman-teman dan warganet yang selama ini mengikuti perjalanan kehamilanku dan turut mendoakan persalinanku. Aku lagi berusaha nih merespon ucapan selamatnya satu per satu. Dicicil yaa pas lagi begadang nyusuin.

 

Dan terakhir terima kasih kepada suami yang selalu meyakinkan bahwa aku bisa, Mama yang semakin aku hargai karena merasakan perjuangan seorang ibu, keluarga, anak-anakku yang adalah sumber kebahagiaan sehingga membuat Mama ingin terus menambah! Menambah lagi? Why not?

 

Leave a Reply