Tandem Nursing

posted in: Family | 2

Saat ini Nilouh berusia 3 minggu setengah dan Mas Delmar berusia 2 tahun 7 bulan, dan aku tandem menyusui keduanya. Anak-anak memang lumayan lama minum ASI. Setelah semua lulus ASI eksklusif 6 bulan, Nadine lanjut hingga 1 tahun 11 bulan, Nuala 2 tahun 10 bulan, dan Mas Del still going on strong.

 

Aku juga menyusui Delmar saat hamil, dan untuk kasus aku, aman-aman saja kok (baca artikel aku Tandem Nursing yang sebelumnya di https://mamudmaskin.com/2018/08/21/tandem-nursing/ ). Jadi wajar bila aku melanjutkan menyusui Delmar begitu Nilouh lahir.

 

Banyak yang tanya, karena menyusui sekian lama, apakah ASI aku berlimpah? Actually tidak. ASI aku ngepas banget. Bukan model yang butuh kulkas sendiri untuk menyimpan ASIP atau bisa menjadi donor ASI. Tapi memang aku percaya produksi ASI sesuai dengan kebutuhan, sehingga ada saja terus sampai si anak memutuskan sudah tidak mau menyusu lagi.

 

Konsep itulah yang aku pegang sehingga anak-anak menyusu untuk waktu yang lama dan terhindar dari drama menyapih. Waktu itu sempat coba berhenti menyusui Nadine di usia 1 tahun seperti yang disarankan sekitar, tapi tidak tega mendengarnya memohon meminta menyusu kemudian menangis. Aku pikir toh di usia 1 tahunan anak-anak sudah makan layaknya orang dewasa, dan ASI lebih untuk kenyamanan atau bonding saja.

 

Dan tidak perlu dijelaskan manfaat menyusui walau anak-anak sudah tidak bayi lagi. Walau dibilang sudah encer dan seterusnya, nyatanya masih mengandung berbagai antibodi yang diturunkan langsung ke anak-anak. Alhamdulillah anak-anakku termasuk yang jarang sakit dan untuk jangka panjang jadi hemat biaya ke dokter. ASI memang investASI yang hebat!

 

Kembali ke tandem nursing. Alasan lain kenapa aku masih menyusui Delmar karena aku ingin memastikan ia tidak merasa tersingkir dengan kehadiran adiknya. Sebelum Nilouh lahir, aku sedang dekat-dekatnya dengan Delmar yang adalah anak lelaki satu-satunya. Sepanjang kehamilan, aku berusaha melibatkan dan mempersiapkannya. Momen pertama bertemu dengan Nilouh, Delmar yang sensitif berusaha seramah mungkin dengan adik bayinya; tetapi mata kecilnya terlihat bingung terutama saat aku menyusui Nilouh. Delmar juga mendadak malu dan salah tingkah bila bertemu orang banyak dan menjadi semakin clingy dengan nenek dan mbak di rumah. Makanya aku harus ekstra perhatian ke Mas Del, termasuk menyusuinya usai menyusui Nilouh.

 

Alhamdulillah sekarang Delmar sudah lebih santai. Ia tahu gilirannya menyusu adalah setelah adiknya. Bahkan ia akan mengatakan, “Nilouh minum dulu ya. Habis itu it’s my turn”.

 

Aku harus memastikan ASI cukup untuk Nilouh dan Delmar. Tapi di sisi lain, aku sudah kembali bekerja dan harus perlahan menurunkan berat badan sekaligus mempersiapkan stok ASIP. Itulah pentingnya manajemen ASI.

 

Bicara menurunkan berat badan, saat ini masih ada “hutang” 6-7 kg. Tapi aku santai saja, karena selama ini masih aman menutupi kelebihan berat badan dengan korset dan pilihan busana. Anyway menurut dr. Diana Mauria (Obgyn-ku), tanpa diet pun perlahan berat kita akan turun dengan sendirinya karena proses menyusui itu membakar sekitar 500 kalori (sama dengan olahraga high impact selama 1 jam!). Jadi teorinya, dengan membatasi asupan kalori sementara tubuh membakar kalori dari proses menyusui, maka secara alami setiap minggu bisa turun ½ kg per minggu. Yang pasti, tidak disarankan menurunkan lebih dari 1.5 kg per minggu (yang hanya bisa dicapai dengan diet ketat dan olahraga intens) karena menurut berbagai literatur, akan mengganggu produksi ASI.

 

Kalau membatasi makanan, tidak berarti diet ketat lho. Hanya lebih pintar memilih menu makan. Aku masih makan segala macam, tapi membatasi asupan karbohidrat dan gula. Aku akan share menu makan di artikel berikutnya yaa.

 

Selain itu, aku sudah mulai olahraga. Baru sekitar 1 kali dalam seminggu, tetapi perlahan aku akan meningkatkan intensitas dan durasi menjadi 3 kali seminggu. Tidak perlu selalu ke gym lho, bisa dengan functional training (menggunakan berat tubuh) di rumah, seperti push up dan squat.

 

Olahraga moderat juga membantu produksi ASI lho. Aliran darah kian lancar, demikian dengan hormon.

 

Kalau sudah melakukan berbagai upaya untuk memastikan pasokan ASI terjaga, selanjutnya adalah manajemen waktu memompa dan direct breast feeding.

 

Makin ke sini, makin jelas jadwal Nilouh. Ia biasa tidur di siang hari dan aktif serta menyusu di malam hari. Jadi biasanya aku akan memompa setiap pagi saat Nilouh masih tidur atau kapanpun bisa. Aku pribadi lebih suka menyusui langsung (direct breast feeding) dan memompa untuk sekedar jaga-jaga ada stok manakala harus kerja. Tidak berlebih, hanya beberapa kantong di freezer, dan 1-2 botol di kulkas manakala ada jadwal shooting.

 

Itu juga mungkin yang membuat Nilouh (dan anak-anak aku sebelumnya) tidak mengalami bingung puting, karena aku memang mendahulukan menyusui langsung – termasuk membawa anak-anak ke lokasi shooting. Makanya kalau ada Mama yang bekerja di kantor bertanya apa yang dilakukan bila anak bingung puting, ya selain menggunakan sendok daripada minum dari dot dan sebagainya, harus tetap menyempatkan menyusui langsung setidaknya saat tidur malam dan pagi sebelum ke kantor.

 

Aku juga tahu betul bahwa memompa tidak akan menghasilkan ASI sebanyak menyusui langsung. Itu terbukti setelah aku memompa dan tidak ada lagi ASI yang keluar. Tidak lama kemudian Nilouh menyusu dan masih ada tuh ASI yang keluar serta terdengar suaranya menelan.

 

Itulah mengapa aku pede tandem menyusui Nilouh dan Delmar.

 

Pede itu penting lho Ma. Satu lagi tip dari aku agar proses menyusui ataupun tandem menyusui lancar, jangan membandingkan diri dengan Mama lain. Tidak perlu juga menanyakan sekali pompa dapat berapa ml. Kenapa? Pertama, karena bila jawaban yang didapat jauh berbeda dari Mama, Mama pasti akan merasa down dan menyangsikan kemampuan diri. Kedua, karena tidak semua Mama “jujur”. Maksudnya begini. Terkadang demi pencitraan (apalagi kalau posting di media social), Mama akan posting ASIP paling banyak (mungkin sebelumnya payudara penuh sekali atau bahkan menggabungkan antara payudara kiri dan kanan) – alias tidak menggambarkan kondisi yang “normal”. Momen memompa juga ada “up and down”nya. Ada momen dimana produksi sedikit, ada lagi yang berlimpah. Maka jangan gunakan orang lain sebagai patokan. Yakin saja pada kemampuan tubuh Mama menghasilkan ASI sesuai kebutuhan anak.

 

Sebagai penyemangat, anakku Nuala tergolong kecil semasa bayi. Ia lahir 3.4 kg tapi seiring pertumbuhannya, ia masuk percentile bawah. Untung karena anak kedua, aku tambeng saja menyusui. Nyatanya, Nuala memiliki metabolisme yang tinggi. Dan sekarang di usia Nuala yang kesembilan, ia termasuk anak paling tinggi dan bongsor di angkatannya! Ia juga sangat aktif dan sehat. So don’t worry Ma!

 

Satu lagi yang bisa Mama lakukan adalah memastikan posisi latch on yang benar. Aku saja – setelah sekian tahun – mendapat suntikan ilmu baru dari bidan Nunik dari RS Brawijaya. Karena puting aku besar, aku suka tidak memusingkan posisi yang benar. Pokoknya cukup, hap, puting masuk mulut bayi dan terlihat gerakan menelan. Padahal, kalau dilakukan dengan benar, lebih banyak ASI yang diminum, mengurangi udara yang masuk, dan melatih geraham serta semua otot mulut. Jadi bagi Mama yang memiliki puting terbenam, justru itu bisa menjadi sebuah kelebihan – karena otomatis Mama akan lebih effort memastikan si kecil latch on dengan tepat.

 

Bidan Nunik bilang dimulai dengan posisi benar: perut bayi menempel pada perut Mama. Misal kita ingin menyusui payudara kanan. Sanggah kepala bayi dengan tangan kiri, tangan kanan memegang payudara. Tunggu sampai mulut si Kecil terbuka, kemudian arahkan kepalanya mendekat ke puting. Saat itu, Mama bisa membantu dengan memasukkan semua areola dimulai dengan bagian bawah dulu. Kalau semua (atau kebanyakan) area gelap sudah tidak tampak, Mama akan melihat bibir atas bayi menyembul ke atas dan bibir bawah menempel dagu. Pipinya juga akan kembung tanpa ada kempotan, dan ada gerakan pada gerahamnya.

 

Banyak tutorial di youtube yang bisa Mama search dengan kata kunci “deep latch technique” seperti https://www.youtube.com/watch?v=7FJuBn2bgNk

 

Aku juga sangat terbantukan dengan breast pump Spectra. Jaman dulu setahu aku tipe ini hanya ditemukan di rumah sakit karena hospital grade. Beruntung sekarang bisa didapatkan dengan mudah. Kemampuan menyedotnya memang mantap dan disarankan cukup 10 menit untuk masing-masing payudara. Pas banget untuk Mama yang sibuk (seperti aku). Aku punya yang Spectra S2 Plus untuk di rumah (walau bisa dibawa-bawa karena rechargeable) dan Spectra 9Plus yang portable yang aku bawa kalau sedang shooting. Ini bukan endorse lho, karena aku merasa sangat happy dengan hasilnya. Dan kalau happy, kita menjadi lebih relaks sehingga semua proses menyusui lebih optimal.

 

OK, waktunya aku memompa lagi, mumpung Nilouh dan Delmar sedang tidur. Selamat mengASIhi!

 

2 Responses

  1. Vivi Lutfiana

    Sangat mencerahkan pemikiran saya mba Nadia, saya baru aja melahirkan usia baby 1m3w, dan kakaknya 2y3m. Saya jg tandem nursing, awalnya ragu apa iya boleh, kebanyakan org2 disekitar heran dan kurang mendukung. Dibilangnya emg boleh? Emg banyak asi nya dll. Saya sempat ragu, tp krn ga tega liat kakaknya yg biasa nenen tiba2 di stop, akhirnya sy hempaskan omongan org2. Terlebih stlh saya baca artikel ini, yg pengalaman langsung mba Nadia, makin mantul deh keyakinan saya bahwa tandem nursing is OK. Tks ya mba 😘

    • mamudmaskin

      Aaah, ini yang membuat aku semangat sharing. Aku saja yang punya 4 anak kadang masih terpengaruh dengan omongan-omongan sekitar. Jangan tandem nanti ASI kurang, lah; anak batpil harus segera ke dokter atau kasih obat, lah; menyusui harus makan banyak, lah… padahal hamil/melahirkan/parenting itu sesuatu yang sangat alamiah dan sangat personal. Kalau memang tandem nursing itu tidak mengganggu pertumbuhan bayi dan tidak membuat Mama stress… kenapa tidak boleh dilakukan? Delmar yang sebelumnya seperti kagok menerima adik barunya, setelah melihat bahwa aku tidak merubah sikapku kepadanya (masih menyusu – walau tunggu giliran setelah adiknya) menjadi lebih “secure”. Karena dia merasa secure, perilakunya lebih santai dan menyusunya pun otomatis berkurang. Karena dasarnya anak usia segitu menyusu untuk bonding dan kenyamanan, bukan karena butuh nutrisinya.
      Semangat mengASIhi Ma!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *