Nilouh Sekolah

posted in: Family | 2

Apa?! Bayi 2 bulan sekolah? Tega amat sih Mamanya! Hihihi, kebayang sih reaksi kalau ada yang mendengar Nilouh sedang sekolah. Tapi jangan keburu antipati dulu. “Sekolah” yang dimaksud bukan seperti sekolah konvensional, melainkan sebuah program yang dirancang khusus oleh seorang pakar early age development (perkembangan anak usia dini) yang sifatnya adalah menstimulasi sensori dengan kegiatan yang biasa dilakukan oleh orangtua dan anak. Metode ini membuat pengalaman belajar anak sama seperti pengalamannya mengeksplorasi mainan – dan sama menyenangkannya!

 

Namanya adalah “Your Baby Can Learn” yang dikembangkan oleh Robert Titzer PhD.

 

Kita semua tahu istilah “the golden years” yaitu perkembangan otak anak yang begitu pesat pada 6 tahun pertama kehidupannya. Bahkan 75% massa otak sedang terbentuk dalam 2 tahun pertama, dan setiap detiknya terbentuk ribuan synaps di otak bayi dan balita.

 

Teori Edelman menyatakan bahwa akan terjadi semakin banyak sambungan di otak bila distimulasi secara multisensori dibanding hanya 1 sensori saja. Multisensori adalah materi pengajaran yang disajikan dalam berbagai modalitas, antara lain visual (penglihatan), auditory (pendengaran), olfactory (penciuman), gustatory (perasa/pengecap), haptics (sentuhan), dan kinesthetic (gerakan). Contoh, bila anak dibacakan cerita dari buku (diperlihatkan kata-katanya) sambil diperagakan dan menyentuh si anak, maka 3 sensori sedang distimulasi secara bersamaan, yaitu visual, auditory, dan haptics.

 

 

Dan apa hasilnya? Menurut berbagai laporan, ada anak bahkan dari usia 1 tahun sudah bisa mengidentifikasi tulisan. Jadi saat ia mulai berbicara, ia bisa pula membaca apa yang ia lihat. Bukan sihir bukan sulap. Kemampuan kognitifnya berkembang secara optimal dan bersamaan.

 

Manfaat lain yang didapatkan adalah anak menikmati proses membaca, belajar, dan mengolah informasi baru. Ia akan tumbuh menjadi anak yang menikmati sekolah sungguhan dan tidak stress saat harus menghadapi ujian. Karena baginya, belajar adalah hal yang menyenangkan.

 

Pertanyaan selanjutnya, adalah apakah aman anak sekecil Nilouh di”jejel”in informasi-informasi ini? Tenang saja. Toh yang dituju bukan sisi akademis, melainkan menstimulasi kemampuan yang sebenarnya berkembang secara alamiah juga — agar bisa lebih optimal.

 

Banyak sekali penelitian yang mendukung konsep ini. Salah satunya adalah oleh Dolores Durkin di tahun 1960an, yang melakukan penelitian selama 6 tahun. Temuannya adalah anak-anak usia 3 atau 4 yang diajarkan membaca, memiliki kemampuan membaca lebih baik dari anak-anak sepantaran dengan IQ sama sepanjang usia sekolahnya. Tentunya ini mempengaruhi secara positif kemampuan akademis dan masa depannya. Seperti penelitian oleh The University of Edinburgh, United Kingdom. Menurutnya, anak yang diajarkan matematika dan membaca dari usia dini, memiliki peluang mendapatkan gaji yang lebih tinggi, pekerjaan dan rumah yang lebih baik, serta status sosioekonomi yang lebih tinggi pula.

 

Wuih, jadi semangat mau mengajar anaknya ya. Tapi ditekankan sekali lagi ya, belajar membaca bukan seperti “ini Ibu Budi” melainkan dengan cara yang fun dan natural. Sebenarnya yang dilakukan adalah apa yang Mama lakukan anyway: menyanyi dan bercerita. Hanya saja dilakukan dalam format terarah dan sudah dibuktikan manfaatnya (evidence based).

 

 

Jadi bagaimana melakukan program #YourBabyCanLearn ini? Berikut langkah-langkahnya:

 

  1. Pemanasan dengan menyanyi lagu.

Bisa 2 lagu atau lebih agar anak menjadi excited. Jangan lupa saat menyanyikan sambil menatap matanya, memainkan intonasi, dan melakukan banyak gerakan atraktif.

 

  1. Menunjukkan word card.

Word card adalah kartu dengan tulisan dan gambar, sehingga bayi mengenali tulisan dan mengasosikannya dengan gambar dan bunyi yang ia dengar.

Mama dapat membuat word card sendiri dengan menulis atau print kata (menggunakan huruf kecil dengan font yang mudah dibaca) dan menambahkan foto dari kata tersebut di sebelahnya.

Take your time untuk membahas masing-masing word card. Misal jika katanya adalah “baby”, maka selain Mama menunjukkan tulisan “baby” dan melafalkannya, Mama juga menunjukkan gambar bayi dan bercerita pada si Kecil. Misal si bayi sedang melakukan apa, Mama dan Daddy sangat mencintai baby, dan seterusnya. Be creative.

Untuk bayi usia Nilouh, cukup 4 word card saja. Setiap harinya, ganti dua kata dengan dua kata baru. Hari ini, “menu” word card Nilouh adalah: baby, cat, elephant, mouth.

 

 

  1. Menunjukkan flash card.

Bedanya flashcard dengan word card; word card ada gambarnya. Flash card hanya tulisan yang di-“flash” atau ditunjukkan secara cepat sambil diucapkan. Tujuannya adalah agar anak mengenali pola.

Mama bisa membuat flash card sendiri dengan menulis atau print tulisan diatas kertas atau karton ukuran A4 dibagi 2 secara memanjang (atau ukuran apapun yang mudah Mama pegang).

Jumlah kata setiap hari adalah sekitar 10 yang boleh ditambahkan sesuai usia anak. Tunjukkan kartu dengan 10 kata tersebut dan ulang 3x.

 

  1. Membaca buku.

Buku menjadi penutup “kelas”. Silakan pilih buku bergambar manapun dan bacakan dengan penuh ekspresi. Tujuannya adalah menumbuhkan cinta dan pengalaman positif anak pada ritual membaca.

 

 

Selesai deh. Hanya 10-15 menit saja! Lakukan secara konsisten setidaknya 1x sehari, bahkan boleh 2 atau 3 kali juga. Karena lagi-lagi ini bukan “sekolah” yang membosankan, namun “play time” yang menyenangkan.

 

Aku komit melakukan program ini secara konsisten selama 1 bulan (dan seterusnya) sejak Nilouh ulang bulan yang kedua. Senin sampai Jumat dilakukan di The Learning Castle (sekolahnya Mas Delmar); Sabtu dan Minggu aku lakukan di rumah agar Daddy (dan kadang kakak-kakaknya) ikut serta.

 

Ohya, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:

  • Lakukan saat si Kecil dalam kondisi yang pas untuk diajak belajar/bermain; tidak lapar, tidak mengantuk, diaper kering, dan seterusnya. Tidak perlu keukeuh mematok waktu tertentu. Santai saja dan ikuti alur si anak.
  • Lakukan di lokasi yang terang dan sepi, jauh dari gangguan. Matikan hp, TV, dan jauhkan dari kakak-kakaknya.
  • Sebisa mungkin Mama (dan Papa) lakukan sendiri karena interaksi dengan si Kecil adalah kesempatan berharga untuk meningkatkan bonding.

 

Setelah seminggu, menurut suami, Nilouh lebih responsif. Ia lebih banyak berinteraksi dan membuat suara saat diajak ngobrol. Ini kata suami aku lhooo, hihihi, proud Daddy. Aku sendiri tidak mematok apa-apa. Syukur-syukur kalau nantinya ia lebih cepat bisa membaca. Tapi bagi aku, yang paling penting adalah aku melakukan kegiatan bersamanya yang menyenangkan dan bermanfaat.

 

 

Aku juga merangkum beberapa pertanyaan yang sering ditanyakan (Frequently Asked Questions).

 

Kalau Mama ada pertanyaan lain, silakan masukan di kolom komentar dan akan aku jawab dan sertakan di artikel.

 

FAQs:

 

Boleh dilakukan dengan Bahasa Indonesia?

Boleh dong. Usia golden years adalah momen dimana otak anak seperti spons yang mudah menyerap informasi, termasuk mengenali berbagai bahasa. Kecuali jelas anak tampak memiliki kesulitan memahami bahasa atau mengalami speech delay, maka sebaiknya fokus ke 1 bahasa saja.

 

Apa tidak takut jika memperkenalkan bahasa dari bayi, malah akan membuatnya kewalahan?

Menurut temuan Robert Titzer PhD, kalau memperkenalkan bahasa(-bahasa) sejak usia dini, anak akan memiliki kemampuan syntax, tata bahasa, kosakata, artikulasi, kemampuan memproses kalimat, dan lebih mampu mempelajari bahasa asing.

 

Idealnya mulai di usia berapa? 2 bulan kok sepertinya muda banget?

Di program #YourBabyCanLearn disarankan untuk usia 3 bulan. Tetapi bagi bayi seperti Nilouh yang sudah banyak berinteraksi di usia 2 bulan, juga diperbolehkan. Intinya kan balik ke “kesiapan” masing-masing anak. Di usia 2 bulan, bayi sudah bisa melihat secara sempurna. Bayi baru lahir memang penglihatannya masih terbatas pada outline bentuk yang masih blur (buram) dan cahaya serta warna. Begitu ia sudah bisa melihat dengan jelas, ia akan sangat senang distimulasi dengan hal-hal baru.

 

Aku kerja kantoran dan begitu sampai rumah capai untuk melakukan program ini. Bolehkah aku delegasikan saja pada suster?

Idealnya orangtua yang melakukan karena ini adalah salah satu bentuk bonding. Tetapi bila Mama sangat sibuk, daripada tidak, silakan didelegasikan ke suster ASAL metode yang ia lakukan sudah betul. Begitu sampai rumah, upayakan Mama dan Papa masih melakukan kegiatan seperti menyanyi atau membaca buku, sehingga anak tetap mengasosiasikan the love of learning dengan orangtuanya.

 

Anakku selalu menangis setelah 5 menit saja. Apakah perlu diteruskan atau tunggu sampai tenang lagi dan diulang dari awal.

Jangan pernah memaksakan sesuatu pada anak. Kalau ia menangis segera berhenti dan tenangkannya. Kalau terus berulang, mungkin ada sesuatu di sekelilingnya yang membuat tidak nyaman, seperti posisi baby bouncernya terlalu tegak atau udara terlalu dingin.

Kalau sudah tenang, boleh diulang lagi atau dilakukan pada malam atau keesokan harinya. Program ini bukan sesuatu yang baku layaknya sekolah sungguhan, tetapi memang disarankan dilakukan rutin sekali sehari (atau lebih) agar anak mengenal polanya.

 

Anak saya sudah melakukannya selama sebulan tapi tidak tampak ada perubahan apa-apa?

Sekali lagi, ini bukan sekolah sungguhan dengan target. Metode ini adalah hal-hal yang biasa Mama lakukan anyway kok, untuk menstimulasi sensori si Kecil dan meningkatkan bonding. Seharusnya dilakukan tanpa ekspektasi. Segala bentuk stimulasi yang dilakukan pada anak, tidak bisa diukur baku, melainkan akan tertanam dalam dirinya untuk jangka panjang.

 

 

Untuk informasi lebih lanjut, hubungi:

The Learning Castle

Jl. Kerinci III no.9, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

WA: 08118753969

www.thelearningcastle.co.id

IG: @thelearningcastleindonesia

www.yourbabycanlearn.com

2 Responses

  1. prina

    Memang lagi nyari info ini, bermanfaat sekali bisa baca di blog kak Nadya.. Thank u 😘

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *