Dua Garis Biru

posted in: Family, Fun & Passion | 0

 

 

 

Dua garis biru akibat menonton film biru! Film ini menjadi pembuka mata dan pembuka diskusi mengenai kenyataan remaja zaman now (dan mungkin zaman old namun saat itu masih ditutup-tutupi). Ya, remaja bisa melihat konten porno dengan mudahnya, remaja bisa berhubungan badan dengan pacarnya, remaja bisa hamil.

 

 

Bersyukur banget diajak Mom Sweet Moms untuk menonton penayangan Dua Garis Biru pada hari Sabtu 27 Juli di CGV FX bersama putri pertamaku, Nadine, yang berusia 13 tahun (rating film ini 13 tahun keatas). Ini adalah sebuah film sarat pesan namun disajikan ringan, menggambarkan isu yang sangat riil namun gagap dibahas, menyentak tapi menghibur, dan membuat menangis sekaligus tertawa (walau kadang tawa terasa terpaksa untuk menutupi rasa ngilu di ulu hati). Film yang telah menebus angka 2 juta penonton dalam dua minggu ini penuh pengambilan gambar artistik nan indah yang penuh makna tersirat, dan akting serta dialog yang sangat natural.

 

Aku mengacungkan jempol untuk Zara JKT48 (Dara) dan Angga Aldi Yunanda (Bima) yang sukses memerankan remaja polos yang tidak disangka orang tua sudah berhubungan sedemikian jauhnya. Demikian dengan yang menjadi orang tua mereka; Cut Mini, Lulu Tobing, Dwi Sasono, dan Arswendy Bening Swara, sukses mewakili berbagai gejolak emosi yang dihadapi orang tua saat (knock on wood) mendapati anaknya hamil.

 

Tidak perlu terlalu rinci menjabarkan sinopsisnya karena informasi ini beredar dimana-mana. Kisah anak SMA yang pacaran, satu kali saja berhubungan badan kemudian hamil. Bima bertanggung jawab dan mereka memutuskan melanjutkan kehamilan tanpa memberitahu siapa-siapa. Tentu saja ketahuan secara dramatis dan itulah saat struggle dimulai. Dara dan Bima akhirnya melangsungkan akad nikah dengan sederhana dan mencicipi kehidupan berumah tangga yang jauh dari bayangan (dan harapan orang tua) mereka. Apalagi ditampilkannya kesenjangan ekonomi secara implisit tanpa perlu lebay si kaya versus si miskin layaknya sinetron kebanyakan. No sugar coating saat melihat Bima yang baik, yang sopan, yang Dara sayangi, sepertinya memiliki masa depan yang suram.

 

Struggle juga dihadapi oleh orang tua yang berusaha menerima namun pada saat bersamaan berontak berupaya mencari solusi atas keadaan diluar kontrol mereka. Struggle berusaha memaafkan anaknya dan berusaha memaafkan diri mereka sendiri karena menganggap gagal sebagai orang tua.

 

Yang menarik adalah ending-nya (spoiler alert) dimana ini juga menjadi pertanyaan aku kepada penulis sekaligus sutradara, Gina S. Noer; dari semua ending yang mungkin terjadi—ala sinetron dimana terjadi komplikasi berujung pada meninggalnya Dara atau sang bayi, atau ala dongeng Disney dimana they all lived happily ever after—mengapa Gina memilih ending Dara meninggalkan anaknya untuk diurus Bima dan keluarga, sementara ia mengejar cita-citanya sekolah ke Korea?

 

Gina mengatakan bahwa sudah banyak film atau sinetron yang melakoni akhir berbeda. Pendekatan empati pada karakter di film Dua Garis Biru mengizinkan setiap penonton memiliki interpretasi masing-masing: kalau ini menimpa keluarganya (knock on wood lagi), apa yang akan mereka lakukan?

 

Dan merunut ke adegan di UKS, dimana kehamilan Dara terbongkar dihadapan kedua pihak orang tua, langsung saling menuding, “salah anak kamu,”… “Ini anak KITA.”. Pesannya adalah apapun yang terjadi, benar maupun salah, efeknya ditanggung oleh keluarga. Jalan keluar yang dipilih mungkin tidak selalu ideal, namun esensi utamanya adalah keluarga. Keluarga itu berproses. Demikian dengan Dara yang memilih mengejar cita-citanya untuk masa depannya, untuk masa depan keluarganya. Adam (nama dari sang bayi) adalah anak KITA. Dimana Dara, Bima, dan kedua pasang orang tua berupaya memastikan kenyamanan dan keamanan kehidupan Adam dengan caranya masing-masing.

 

Yang juga tidak kalah menarik adalah sesi diskusi di akhir pemutaran film yang dipandu oleh Novita Angie. Dengan narasumber Gina S. Noer;  Ersa Mayori, Mona Ratuliu, dan Meisya Siregar yang berbagi pengalamannya dengan putri-putri mereka yang remaja; Cut Mini sebagai pemeran Yuni (ibunya Bima); dan Najelaa Shihab, pendidik dan pendiri Keluarga Kita.

 

 

Dari berbagai hal yang disampaikan narasumber, poinnya adalah orang tua tidak bisa menutup mata apalagi in denial pada keadaan. Perlu menjalin komunikasi terbuka mengenai seksualitas dan segala hal terkait dengannya. Mungkin membahas organ reproduksi itu mudah, tetapi membahas dalan konteks suatu saat nanti anak kita akan melakukannya, not so easy.

 

Adalah insight dari mba Ela, panggilan Najelaa Shihab, yang semakin membuka mata akan menantangnya PR sebagai orang tua. “Kita harus berdaya dan tidak takut menghadapi masalah-masalah yang akan datang,” tuturnya. Anak akan selalu memiliki pertanyaan. Cepat-cepatan anak mendapatkan jawaban dari orang tua atau Google.

 

“Orang tua harus mampu memberikan kebebasan dan kepercayaan, sekaligus batasan dan struktur,” tambahnya. Batasan sangat penting. Jangan karena ingin jadi ortu yang asyik maka berusaha menjadi temannya anak. “Remaja sudah banyak temannya, mereka tidak butuh teman lagi. Mereka butuh orang tua.”.

 

Saat sesi tanya jawab, seorang guru sekolah Islam menyampaikan pengalamannya dimana anak-anak didiknya yang datang dari keluarga berada bahkan kaya raya, juga melakukan berbagai perilaku yang tidak sesuai agama seperti menonton film porno hingga seks bebas. Mengapa agama tidak bisa mengerem perilaku ini?

 

Mba Ela menjawab dengan gamblang, jangan mengandalkan agama saja dalam mendidik anak. Banyak orang menilai agama dari kulitnya. Tidak ada yang tahu bagaimana pengamalan esensi agama dalam diri setiap orang. Buktinya, sudah berpenampilan tertutup toh masih melakukannya juga. Artinya apa? Artinya banyak aspek lain dalam parenting selain pendidikan agama. Silakan mendidik anak dengan agama, menggunakan ayat, bahkan menakut-nakuti dengan neraka. Tapi jangan gunakan itu saja. Harus diskusi, memahami anak, memahami lingkungannya, memahami tuntutan dan tekanan yang dihadapi anak sebagai remaja di era kini, memberi contoh; karena parenting adalah kumpulan ratusan perilaku setiap hari.

 

Bravo sekali lagi kepada mba Gina, Pak Chand Parwez, semua tim dan crew, serta para pemain. Ditunggu karya selanjutnya. Semoga film berikutnya selain mengangkat isu keluarga, juga bisa address krisis moralitas dan isu riil lainnya yang tengah mengganjal hati kita semua.

 

Leave a Reply