Berjemur Bikin Bingung

posted in: Family | 0

Dari dulu tahunya berjemur (apalagi dengan bayi) baiknya antara jam 7 hingga 9 pagi. Tapi sekarang dengan virus Corona, dibilang baiknya mulai dari jam 10 atau jam 11. Membingungkan. Ada pula berita yang mengatakan bahwa berjemur pagi itu meningkatkan resiko kanker! Yang benar yang mana sih?

 

 

Sebelumnya, ketahui dulu beberapa hal terkait matahari. Bumi mendapatkan hampir semua energinya dari matahari. Energi dari matahari ke bumi dalam bentuk solar radiation atau radiasi matahari.

 

Sinar matahari terbuat dari tiga jenis (bands) radiasi matahari:

  1. Radiasi inframerah atau infrared radiation (54.3%)
  2. Sinar yang tampak atau visible light (38.9%)
  3. Radiasi ultraviolet atau ultraviolet radiation (UVR) (6.8%)

 

Setiap jenis memiliki panjang gelombang yang berbeda. Semakin pendek gelombangnya, semakin tinggi energinya dan membahayakan manusia. Sebaliknya, semakin panjang, semakin rendah energinya.

 

Radiasi inframerah yang kita rasakan sebagai rasa hangat atau panas adalah radiasi matahari yang kadarnya paling banyak (54.3%), tapi justru memiliki gelombang paling panjang (760 nm-1 mm) yang dibagi lagi ke IR-A, IR-B, and IR-C. Radiasinya adalah yang paling dalam menembus lapisan kulit: melalui epidermis, dermis, hingga ke subcutis sehingga bisa merangsang terbentuknya radikal bebas. Tapi jangan khawatir, karena gelombangnya panjang, maka energi yang berdampak ke manusia itu kecil.

 

Sinar yang tampak—seperti namanya—adalah satu-satunya radiasi matahari yang kita bisa lihat, dengan spektrum warna dari merah (760 nm) hingga ungu (400 nm).

 

Terakhir adalah Ultraviolet Radiation atau UVR yang walau hanya 6.8% dari radiasi matahari, tapi gelombangnya yang paling pendek sehingga energinya paling tinggi dan paling nyata efeknya pada kulit. UVR yang kerap menjadi pembahasan adalah 3 jenis gelombang UV dengan panjang gelombang berbeda. Ingat ya, semakin pendek gelombangnya, semakin tinggi energinya dan semakin membahayakan kulit.

 


UVA memiliki gelombang paling panjang (315–400 nm) dan kadarnya adalah 95% dari sinar UV yang menembus ke bumi. Gelombangnya bisa menembus awan dan penetrasi ke lapisan dalam kulit (epidermis) serta mempengaruhi kolagen di lapisan dalam (dermis) sehingga paparan yang berlebihan bisa memicu keriput, flek, dan tanda penuaan dini. Cara mudah mengingatnya adalah A = Aging.

 

UVB memiliki gelombang medium (280–315 nm) yang banyak diserap atmosfir, sehingga hanya 5% yang menembus ke bumi. Gelombangnya hanya sampai lapisan kulit luar (epidermis) dan bila terpapar terlalu lama bisa membuat kulit terbakar dan teriknya bisa merusak mata. Makanya, cara mengingatnya adalah B = Burn.

 

UVC memiliki gelombang paling pendek (<280 nm) dan paling bahaya, tapi tidak bisa menembus atmosfir. Aman.


 

 

Banyak sumber mengatakan paparan UVA mengakibatkan kanker, ada pula yang mengatakan paparan UVB yang mengakibatkan kanker? Duh bikin parno dan bingung.

 

Sebelum menjawab, begini yaa… ini informasi penting makanya aku bold.

 

Sesungguhnya tidak ada yang tahu penyebab kanker. Memang ada beberapa hal yang dipercaya bisa meningkatkan faktor resiko tetapi berbeda-beda pada setiap orang. Bedakan: MENGAKIBATKAN dengan MENINGKATKAN FAKTOR RESIKO. Intinya kanker tidak semata diakibatkan oleh satu faktor saja.

 

Bagi yang nggak paham ilmu kedokteran nggak usah nakut-nakutin “menyebabkan atau mengakibatkan kanker.” Makanya sebelum menulis ini, aku cross-check dengan teman-teman dokter, membaca jurnal ilmiah, dan panduan dari WHO.

 

Menurut WHO, keduanya BISA meningkatkan resiko kanker (kanker kulit atau melanoma). Tepatnya adalah:

UVA long term effect: Recent studies strongly suggest that it may also enhance the development of skin cancers.

UVB long term effect: Significantly promotes the development of skin cancer.

 

Artinya, resiko kanker meningkat manakala terpapar radiasi matahari secara berlebih dalam jangka panjang dan juga ditambah pengaruh faktor-faktor lain.

 

Yang menarik, berbagai penemuan ilmiah yang diangkat oleh Holic (2008) justru menyatakan bahwa kekurangan paparan sinar matahari dan defisiensi (kekurangan) vitamin D berhubungan dengan banyak penyakit kronis seperti autoimun, penyakit menular, penyakit kardiovaskuler, dan kanker! Demikian dengan penelitian oleh Grant yang menemukan bahwa banyak jenis kanker resikonya dapat dikurangi dengan paparan UVB secukupnya.

 

Intinya, lakukan segala sesuatu secara sadar dan secara moderat alias tidak berlebihan, termasuk berjemur. Jangan sampai ditakut-takuti seperti ini kemudian menghindar sinar matahari. Seorang teman yang menjalani treatment kanker di Guangzhou menceritakan bahwa salah satu rutinitas pengobatan pasien adalah berjemur.

 

OK, let us now focus on the beneficial traits of the sun. Manfaat positif matahari banyak banget lho.

 

 

UVA yang menembus hingga ke dalam membantu regenerasi sel dan jaringan, termasuk pembentukan sel darah dan sirkulasi darah yang lancar, juga tekanan darah stabil; sementara UVB merubah provitamin D yang berbahan dasar kolesterol menjadi vitamin D3 (yang berperan dalam penyerapan kalsium dan fosfor untuk tulang kuat dan padat), serta berperan dalam pembentukan sistem imun (immunomodulator) dalam tubuh.

 

Sinar matahari mengakibatkan banyak reaksi kimia di dalam tubuh, seperti menghasilkan hormon endorfin dan serotonin. Endorfin dikenal sebagai “feel good hormones” atau yang membuat bahagia, sementara serotonin membuat semangat dan fokus.

 

Jadi kita butuh keduanya. Toh kedua jenis UV selalu ada di sinar matahari. Nggak berarti jam 7-9 pagi hanya ada UVA kemudian jam 10-14 siang hanya ada UVB. Intensitasnya saja yang berbeda.

 

Kenapa semenjak pandemi Covid-19, muncul “aliran” berjemur di bawah sinar matahari siang? Well, selain karena UVB bisa meningkatkan imunitas, ada anggapan bahwa sinar matahari yang panas bisa “membunuh” virus.

 

Walau belum ada penelitian yang konklusif, bibit penyakit—termasuk virus—bisa dimatikan dengan gelombang sekitar 230-260 nm (inilah mekanisme dibalik alat sterilizer menggunakan UV atau Ultraviolet germicidal irradiation (UVGI) yaitu menggunakan UVC) sementara UVB panjang gelombangnya 280-315 nm.

 

Selain UVA dan UVB, ada satu hal lagi yang penting diketahui yang berkaitan langsung dengan kapan waktu paling tepat untuk berjemur, yaitu UV Index (UVI) atau Indeks UV yang merupakan intensitas radiasi sinar matahari pada permukaan bumi.

 


Indeks UV < 3    : low. sangat aman untuk aktifitas diluar ruangan lama.

Indeks UV 3-5   : moderat.

Indeks UV > 5    : high atau berbahaya.

Indeks UV > 7    : very high atau sangat berbahaya.


 

Pedoman dari WHO mengatakan, batasi paparan UVI tinggi (midday sun) dan bila UVI diatas 7, gunakan pelindung badan ketika berada di luar ruangan.

 

Negara yang terletak di equator (garis khatulistiwa) berarti letaknya paling dekat dengan matahari, sehingga indeks UV nya tinggi. Makin kuat indeks UV makin perlu dikurangi waktu paparannya.

 

Daerah di garis khatulistiwa disebut sebagai Zona Iklim Tropis (23,5° LU – 23,5° LS). Indonesia letak geografisnya adalah 6° LU – 11° LS. Sehingga sebaiknya berjemur saat Indeks UV di level rendah hingga moderat, yaitu antara jam 7.30 wib – 9.30 wib pagi dan/atau jam 15.00 – 16 sore. Kalaupun ingin berjemur saat indeks UV tinggi, jangan lama-lama dan gunakan perlindungan seperlunya.

 

 

Bagaimana cara mengecek Indeks UV? Bisa install apps seperti UV Index, Accu Weather Apps, dan lain-lain.

 

Berikut Indeks UV di daerah rumah aku, daerah Kemang (Kebayoran Baru) pada 7 April 2020:

 

Selain UVA, UVB, UVI, dan letak geografis, faktor lain yang mempengaruhi kapan dan berapa lama boleh berjemur adalah:

  • Suhu.
  • Kelembapan
  • Polusi.
  • Awan di langit. Langit berawan tidak selalu berarti kamu terlindung. Ingat bahwa UVA bisa menembus awan.
  • Tipisnya lapisan ozon. Pemanasan global membuat lapisan ozon makin tipis dan berlubang. Sehingga paparan UV, terutama UVB makin tinggi.
  • Waktu dan Musim. UVB paling terpengaruh dengan kondisi waktu dan musim. Di negara dengan empat musim, level UV paling tinggi di musim panas (summer).
  • Ketinggian (altitude). Tempat di dataran tinggi mendapat paparan UV lebih tinggi. Setiap ketinggian 1.000 m, level UV naik sekitar 10%.
  • Pantulan. Permukaan seperti rumput akan menyerap pantulan UV. Tapi salju dan area gedung perkantoran dengan banyak kaca akan memantulkan sinar UV sehingga paparan menjadi lebih tinggi.
  • Warna kulit atau derajat pigmentasi kulit. Semakin putih kulit maka semakin mudah terbakar, sehingga tidak bisa berjemur selama mereka yang berkulit lebih gelap.

 

Setelah membaca semua informasi, berikut kesimpulannya. Catat ya!

 


Panduan berjemur:

  • Kita butuh matahari setiap hari ASAL memperhatikan UV indeks.

Silakan berjemur pagi hari (saat UVI rendah) dan sesekali diselingi dengan 5-15 menit terkena sinar matahari siang (saat UVI moderat atau tinggi).

  • Bila berjemur di pagi hari tidak perlu membuka baju.

Sinar UVA bisa menembus kain. Ini juga berlaku saat menjemur bayi. Tidak perlu dibuka semua bajunya, tapi yang penting tubuh bagian depan dan belakang terkena sinar.

  • Bila berada di bawah sinar matahari siang atau UVI tinggi,

WHO menganjurkan cukup 5-15 menit bagian tangan, lengan, dan wajah terpapar matahari dan cukup seminggu 2-3 kali.

  • Kalau beraktifitas siang hari atau saat UVI tinggi, gunakan pelindung seperti mengenakan baju lengan panjang warna cerah, mengoleskan sunscreen* (broad spectrum dengan SPF sesuai dan PA+++) secara tipis di wajah agar tidak terjadi flek, kacamata, topi lebar, dan rajin minum air putih.

*bedanya sunscreen dan sunblock apa hayo? Nantikan di artikel selanjutnya ya.

 

Jadikan kebiasaan beraktifitas di bawah sinar matahari pagi sebagai bagian dari keseharian. Bersyukur kita hidup di Indonesia dengan pancaran sinar matahari cerah. Vitamin D gratis! Bayangkan negara lain yang hanya bisa menikmati matahari hanya beberapa hari dalam 1 tahun!

 

Dan jangan mau ya ditakut-takutin dengan broadcast whatsapp apalagi yang hoaks. Karena untuk imunitas melawan penyakit apapun, sumbernya bukan hanya dari makanan, sinar matahari, olahraga, dan istirahat, tapi juga mind set yang positif serta mampu mengelola stress dengan baik.

 


Terima kasih dr. Era Jusi Nasution, SpKK dan dr. Winda Fibrita untuk kesempatan wawancaranya.

 

Referensi lain:

  • Lucas, Robyn. “Solar Ultraviolet Radiation: Assessing The Environmental Burden of Disease at National And Local Levels.” Environmental Burden of Disease Series no. 17, WHO Library.
  • World Health Organization (WHO/SDE/OEH/02.2): Global Solar UV Index: A Practical Guide
  • The Montreal Protocol and Human Heath, “How Global Action Protects Us From The Ravages of Ultraviolet Radiation.” 2015. UNEP,
  • Holick, Michael F. “Vitamin D and Sunlight: Strategies for Cancer Prevention and Other Health Benefits.” Clinical Journal of The American Society of Nephrology. 2008.
  • Holick, Michael F. “Cancer, Sunlight, and Vitamin D.” Journal of Clinical and Translational Endocrinology. 2014.
  • Grant WB. “An estimate of premature cancer mortality in the US due to inadequate doses of solar ultraviolet-B radiation.” Cancer94: 1867– 1875. 2002.
  • World Health Organization website. who.int
  • National Centre for Biotechnology Information website. ncbi.nlm.nih.gov
  • Blog Dermatologist Edit Olasz Harken, MD, PhD. harkenderm.com
  • Tulisan (Whatsapp broadcast) dari KSM Kulit dan Kelamin RSUD Dr. Moewardi/Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret.
  • Tulisan (Whatsapp broadcast) dari Handrawan Nadesul.

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *