Hantaran: Tanda Perhatian atau Beban?

posted in: Family | 10

Beberapa hari menjelang Idul Fitri, puncak dari “perjuangan” selama sebulan ke belakang. Namun Ramadhan dan Lebaran tahun ini sungguh beda, tidak perlu dijabarkan panjang lebar. Yang masih sama adalah semangat beribadah, beramal, dan berbagi.

 

Kondisi tahun ini yang memprihatinkan ternyata tidak menyurutkan kemurahan hati memberikan hantaran. Terkadang dalam sehari bisa mendapat beberapa paket makanan yang tidak mampu dihabiskan seorang diri. Instagram Story juga penuh dengan postingan apresiasi kepada si pemberi yang ternyata disambut sinis oleh beberapa netizen yang menghardik “pamer” dan “tidak peka terhadap mereka yang kesulitan akibat pandemi.”

 

Rupanya, sinisme ini terasa oleh beberapa, seperti yang tadi aku sempat baca di postingan Putricaya @puchh “baper sama hamper(s)?” Seakan ada fenomena mereka yang tidak suka dengan “influenza” (istilah merendahkan untuk “influencer”) yang unboxing hampers tak berfaedah. Hmm yang menarik adalah apakah mereka yang nyinyir terhadap aksi unboxing tersebut akan melakukan hal yang berbeda manakala mereka on the receiving end?

 

Di sisi lain, banyak UMKM yang terbantukan dengan postingan para penerima. Hantaran unik yang dikemas dengan cantik bisa menjadi inspirasi untuk hantaran selanjutnya sehingga UMKM itu mendapatkan order dan bisa menyambung nyawa di masa yang sulit saat ini.

 

Budaya hantaran ini selalu menyita perhatianku setiap Ramadhan dan aku memiliki perspektif berbeda. Berikut adalah artikel aku dan Joy Roesma untuk majalah Dewi edisi Ramadhan tahun lalu, yang dimodifikasi agar lebih sesuai dengan kondisi sekarang. Selamat membaca.

 

 

Kisah Ramadhan 1440 Hijriyah.

 

Ramadhan telah tiba! Sejak tarawih pertama, smartphone penuh dengan broadcast permohonan lahir batin dan ucapan selamat berpuasa. Para pedagang pun heboh buka lapak menggelar dagangan kue, daging kering, serta kaftan. Agenda Ramadhan (tahun lalu) sejak minggu kedua padat merayap dengan acara buka bersama lengkap dengan dresscode berbeda (yang artinya budget naik tiga kali lipat euy, muka mau ditaruh mana kalau masih mengenakan koleksi tunik dan kaftan dua tahun lalu). Semua ini adalah tradisi yang membuat bulan suci begitu hangat dan semarak. Didasari pada rasa syukur diberi kesempatan untuk menumpuk amal di bulan suci sekaligus antusiasme ingin berbagi rezeki pada sesama.

 

Demikian dengan tradisi hantaran. Para istri kreatif memikirkan makanan apa lagi yang ingin mereka kirim pada barisan handai taulan. Tidak hanya sekedar makanan untuk sahur atau berbuka. Hantaran kini makin ekstravagan. Bahkan beberapa berlomba untuk menghadirkan hantaran paling hits dengan temuan makanan yang banyak belum tahu sehingga menuai pujian dan desakan ingin tahu dari mana mendapatkannya. Menjadi kebanggaan tersendiri dong, apalagi di zaman semua serba didokumentasikan dan diposting di Instastory. Satu hantaran hits, tak hanya dinikmati si penerima tok, tapi akan disaksikan ratusan mata.

 

Posting hantaran di media sosial itu mulai menuai kritikan. Apa yang diniatkan sebagai “tanda terima” sekaligus “tanda terima kasih” kerap diartikan sebagai pamer. Belum lagi beberapa pengirim yang ingin sekaligus mempromosikan dagangannya mencantumkan permohonan, “sis, nanti kalau sudah terima tolong posting dan tag aku ya.” Apa pendapat kamu perihal ini?

 

Ternyata bukan hanya urusan posting yang dinilai miring. Tradisi hantaran ini bisa menjadi beban bagi sebagian. Bayangkan, satu hantaran berkisar ratusan ribu rupiah. Kalikan dengan jumlah orang yang bisa mencapai puluhan bahkan ratusan; keluarga, kolega suami, geng baru satu tadarusan, geng pengajian, geng arisan, geng sesama ibu sekolahan sampai geng hangout. Haduh! kenapa daftar tiap tahun makin panjang. Tapi nanti kalau tidak mengirim, hmm, akan dicap sombong, pelit atau yang paling fatal, bisnis suami lagi turun? Belum lagi, banyak “bonus” hantaran dari handai taulan yang kurang dekat dan tidak ada di daftar. Sudah kulkas tidak muat, uang pun keluar lagi; karena mau nggak mau harus dibalas. Tambahkan pula biaya pengiriman grab atau gosend yang bikin puasa nyaris batal saat berurusan dengan driver yang bolot, setiap tiga menit bertanya atau telepon terus.

 

Yang semula adalah tanda perhatian menjadi merepotkan. Hantaran-hantaran yang datang pun ujung-ujungnya menumpuk di kulkas. Niat ingin mencicipi semua tapi apa daya, nggak rela juga timbangan yang turun (sedikit) jadi ternodai. Akhirnya dari kulkas dirotasi ke dapur belakang atau pos satpam, bahkan ada yang nekad meneruskannya kepada orang lain. Tentu sudah diperhitungkan, ke yang beda pergaulan. Meski tetap harap-harap cemas, tidak diposting di Instastory dan sampai ke mata yang memberi.

 

Dan ironisnya, di bulan yang seharusnya sarat dengan menahan diri atau “fasting”, menjadi ajang serba berlebih atau “feasting”.

 

Menurut Bapak Isnawa Adji, yang saat itu menjabat sebagai Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, volume sampah di Ibu Kota cenderung meningkat di bulan suci. Dan sampah yang dimaksud adalah sampah rumah tangga alias makanan sisa; seperti sayur-mayur, buah-buahan, plastik, serta pembungkus makanan lainnya.

 

Ramadhan tahun 2018 mencatat kenaikan sampah di Ibu Kota sebanyak 4% atau 7.999 ton per hari!

 

“Peningkatan tersebut disebabkan perubahan pola konsumsi masyarakat dengan meningkatnya konsumsi pada waktu berbuka puasa dan waktu sahur,” jelas Pak Isnawa. Beliau juga menyayangkan perilaku berlebih dalam urusan makanan sehingga banyak yang tidak habis lantas terbuang.

 

Sangat disayangkan, di bulan Ramadhan yang seyogyanya menjadi ajang kesederhanaan dan kebersahajaan, untuk meneguhkan rasa empati terhadap kaum dhuafa, justru kerap tercoreng menjadi ajang pemborosan dan kompetisi semata. Alangkah baiknya jika tradisi hantaran ini disederhanakan atau tanda perhatian ini justru diberikan ke kaum dhuafa atau anak-anak panti asuhan agar mereka pun dapat merasakan kenikmatan yang kita rasakan.

 

 

Itulah kisah tahun lalu. Bagaimana dengan sekarang, dan—yang lebih penting—bagaimana dengan yang akan datang? Jikalau kita diberikan kesehatan dan umur panjang untuk menyambut Ramadhan berikutnya (amin), apakah akan lanjut dengan “tradisi” memberi sambil sedikit mengomel atau justru penuh rasa syukur; ataukah ada pembelajaran dan strategi baru untuk menunjukkan tanda perhatian? Apakah dunia sudah terbebas dari Covid-19 sehingga bisa kembali tatap muka di buka bersama, tadarusan, tarawih, dan sholat Eid; atau jangan-jangan karena bandelnya masyarakat di hari ini, kita akan kian mengunci diri di dalam rumah dan hanya berinteraksi secara virtual? Entah. Tapi yang pasti, apa yang terjadi esok adalah buah dari yang dilakukan hari ini. Dan yang namanya ibadah, juga adalah dengan memakmurkan setiap jengkal bumi dan menjaga semua isinya, yang merupakan ciptaan dan tanda kebesaran Allah SWT.

 

 

*** GIVEAWAY ALERT! ***

*** mamudmaskin bagi-bagi THR! Ada 3 kartu Flazz dengan saldo @Rp 300.000! ***

*** Caranya simpel banget: Follow IG @mamudmaskin ***

*** Tulis komentar di kolom komen artikel ini DAN artikel setelahnya “Seikhlasnya atau Sepantasnya? Part 1” ***

*** Komen paling seru akan dipilih oleh admin dan diumumkan tanggal 31 Mei di Instagram @mamudmaskin. Hadiah langsung dikirimkan oleh MaMin ***

 

MaMin beserta keluarga mengucapkan Selamat Menyambut Idul Fitri 1441H. Mohon Maaf Lahir dan Batin.

10 Responses

  1. Esti

    Tergantung yg nerima sih akan nganggep beban apa ngga, sejauh yg nerima seneng (yaudah pasti seneng lahya😅) trs ga mikirin hrs kasi kiriman balik tapi kl mikir ya ampun bsk dia gue kirimin apa ya nah itu beban bgt deh mendingan ga usah nerima hamper(s). Pdhal jg yg ngirim mah blm tentu ngarep kiriman balik itukan karna budaya kita aja begitu. Org liat iri mah pasti manusiawi ngeliat seleb/artis udah kaya dpt makanan enak yg sebenernya mampu bl yg liat cm bs nelen ludah aja kepengen😂 kadang mikir itu makanan segitu byk abis apa ngga ya. Kl aq sih ga blg pamer ya cm bkn ngiri kita aja (kita😎gue sih😋) karna jd pengen trs mo bl ga mampu ato ga eman duitnya😁

  2. Oskharita Indah

    Kalau saya sih yang namanya hantaran ya sebagai bentuk perhatian saja, bukan suatu keharusan, apalagi ajang pameran, hilih… Kalau dipaksain ntar malah stress sendiri…
    Yang penting kita nya ikhlas, dan nggak ngarep balasan, gitu malah lebih bermakna…
    Tapiii, nggak tau ya, kalau untuk yang orang2 kaya, mungkin (mungkiinnn, semoga saja tidak) sebagai bentuk pengakuan…

  3. Hana

    Selama 2 tahun, baru dekat dengan tetangga sebelah karna covid. Alhasil, sdh dekat tetangga sering kirim2 hasil masakannya. Awalnya senang tp lama2 kepacu juga unk membalas, dan akhirnya saya ikut2 memasak unk hantaran balik.

    Mostly, sih hantaran ini buat saya jd seru. Saling evaluasi masakan dan nambah akrab.

  4. Yunita Sari

    Hi Kak Nadia, aku termasuk yang syeneeeng bgt lihat postingan instagram story kak nadia pas menjelang ramadhan akhir gini. Banyak bgt postingan hantaran dari kolega/kerabat kak Nadia, kebanyakan makanan enak-enak, kadang suka ngiler hihii.. sempat berucap sendiri, perasaan belum lama deh lihat postingan hantaran ramadhan di igs kak nadia, eh sekarang udah ada lagi 😅 cepatnya waktu… aku apresiasi beberapa selebgram/influencer yang berkenan utk posting hantaran mereka, karena itu bisa jadi referensi utk para followers. Ga pernah terbesit anggap mereka pamer, setuju hal tersebut malah bisa bantu promosi produk UKMK. Tag ig UMKM-nya terus kalau kita suka produknya malah bisa jadi order. Disitulah feadahnya ❤ Hantaran sih sejatinya sudah tradisi lawas ya, kalau di keluargaku biasanya khusus kepada kerabat/keluarga yang lebih tua atau tetangga terdekat. kalau kita terima hantaran, baiknya jika mampu ya kita berikan juga hantaran kepada pengirimnya. Kalau kondisi ga memungkinkan, jangan dijadikan beban juga. Dengan ucapkan terima kasih, insyaallah akan menjadi keberkahan untuk semua, Aamiin…

  5. alvianti vivi

    Assalamu’alaiku..
    hantaran adalah bentuk perhatian qt trhdp tetangga,kerabat atw saudara,apalagi dibulan Ramadhan ini smua berlomba2 jika qt memberi maka akan mendapatkan berlipat ganda pahala nya dari Allah SWT. smua itu tdk akan menjadi beban jika dilakukan sewajarnya.. jika mendapatkan hantaran namun tdk bisa membalasnya karna ketidak mampuan jgn dijadikan sebuah beban (yakin kan didalam hati orang yg memberi ikhlas & berdoa semoga Allah membalas kebaikan nya) smua balik ke pribadi masing2.. jika sperti tulisan diatas memberi hantaran utk mengharapkan postingan ucapan trimakasih atw sejenisnya pasti itu akan menjadi beban & timbulnya dlm hati tdk ikhlas karna ada sifat riya (ingin dipuji).. lain halnya memposting hantaran yg memang endorse yg mw membantu umkm yaaa.. semoga qt smua terhindar dr penyakit2 hati yg dpt merusak pahala qt.. Aaaamiiiin Yaaa Robbal’alaaamiiiin..

  6. Merlin Dwi Rini

    Seru banget nih artikelnya,,
    Kalo menurut aku sih mam,hantaran tuh dah jadi tradisi lama di bulan Ramadhan ya mam. Balik lagi juga ke pengirimnya,ada yang dengan niat kirim hantaran utk lebih mempererat tali silaturahmi,ada juga sebagai tanda terima kasih atau hormat dari karyawan kpd atasan,atau sebagai bentuk perhatian utk sodara,teman dan lainnya. Harapannya sih,jenis hantaran yg dikirimkan harus disesuaikan dgn kemampuan si pengirim jgn yg terlalu di “Ada Ada in” hehehe,,, kalo utk si penerima,pasti heppy bgt dong ya dpt hantaran. Aku jugak gt deh mam…klo di posisi penerima 😁😁 tapi mgkn yg dimaksud beban dsini,krn pikiran manusiawi yg bergelayutan ya mam ,, dah dikirimin hammpers masa iya gak di bales kirim balik,gtu kan mam…hehe . Tapi ya tetep kembali lg ke kemampuan pribadi jg,krn g semua hantaran harus di bales jg kan mam.,kita bisa kok siasati beban mental yg ada itu dgn kirim ucapan trima kasih ke si pengirim. Sederhana sih mam,tp itu efeknya luar biasa sebagai bentuk rasa perhatian kita kepada pengirim. Truss niy kalo kita dapet hantaran dlm jumlah yg lumayan banyak,,boleh loh kita bagiin ke orang sekitar kita yg sdg membutuhkan,sama sekali gak ada niat meremehkan..tapi lebih ke supaya gak mubadzir jugak jadinya. Karna kan kebanyakan isi dari hantaran tuh masa exp.date nya kadang sukak ada yg cepet bgt. Jd itu bisa jd solusi jg yg bermanfaat,daripada kebuang sia sia trus malah jd beban buat penerima,, gitu sih mam. Yg terpenting hantaran yg diberikan gak bikin beban pikiran si penerima,jd kedua belah pihak bisa sama sama bahagia,,😉😊

  7. Uly MZ

    Iya banget, ma.
    Dari kecil aku udah liat tradisi kirim-kiriman dan dikirimin parcel/hamper di rumah. Mendekati lebaharan, semua bejubel di ruang tengah juga kulkas.
    Waktu kecil sih suka banget bagian bukain dan icip-icipin semua. Makin gede malah makin sebel liatnya. Banyak makanan yang diicip tapi ternyata nggk sesuai selera, mau dikasih ke orang nggak enak karena udah dibuka. Akhirnya kebuang atau nggak expired aja. Sedih liatnya. Liat barang-barang numpuk juga bawaannya bikin ribut dirumah. Belom lagi gensian dan beban pikiran yang nambah karena dikirimin parcel yang lebih oke.
    Lalu kami sekeluarga mulai bosan.
    Mulai tidak lagi mengirim balik.
    Kami sepakat untuk tidak peduli lagi omongan orang.
    Terserah mereka mau ngirim lagi atau enggak.
    Sekarang kami hanya kirim parcel seperlunya. Dan ternyata tetap banyak yang ngirim ke rumah.
    Kami juga sudah tidak lapar mata lagi. Jadi begitu mulai tidak butuh, kami berikan lagi parcel-parcel ini ke orang yang lebih membutuhkan.
    Rasanya lebih damai dan lebih bahagia.
    Karena akhirnya tidak ada beban, juga akhirnya bisa memberi lebih ke yang lain.

  8. Cila

    Wahhh…bagian posting posting hampers ga selebritis,ga selebgram atau kita kita yang orang biasa dg followers masih seribuan,pasti sebagian akan lelah dan muak dan sebagian lagi exciting ngintipin update instastory yang dapet hampers terus terusan.
    Kalau aku sih team exciting karena dari semua update an orang orang di instastory tentang hampers yg mereka dapat,aku jadi dapat banyakkkkkkk sekaliiiiiii ide ide bisnis baru dan box yang cantik cantik,makanan makanan tradisional yang dikemas apik kekinian dan jajanan jajanan biasa yang disulap jadi berkelas🥰 bahkan aku juga termasuk yang nungguin ka Nad kalau instastory unboxing hampers karena selalu nemu ide baru untuk mulai bikin usaha apa yah kira kira nanti kalau sudah lahiran😇 ahhhh terima kasih banyak ka❤ dan senangnya karena ka Nad selalu exciting dan appreciate semua kiriman yang diterima💕
    Aku sih cuman mau kasih saran aja untuk Ka Nad,mungkin bisa dipertimbangkan setelah lebaran untuk kasih 5 atau 10 slot perhari untuk UMKM dg followers dibawah 1000 untuk bisa promo di instastory nya ka Nad,itung itung membantu sodara sodara kita juga kan yah kaa ditengah tengah pandemi yang entah sampai kapan😭.
    Dan yang kedua,bisa juga ka dr hampers yang dikirim sama teman,sahabat,rekan kerja atau kolega yang mereka buka usaha makanan juga yang dikirim ke kita,besoknya kita pesan untuk diorder dan dikirim ke teman lainnya,jadinya kan kita promosiin di instastory dan kita juga order untuk dikirim ke teman lainnya juga,drpada kirim hantaran balik,kenapa ga sekalian aja order usaahanya untuk dikirim dan dibagikan ke teman lainnya🥰, mari kita mulai ganti system hantarannya aja😇
    Perkara kelebihan makanan yang kita terima dan membludak,memang ada baiknya dibagi bagikan saja,kita bisa juga ijin pengirimannya untuk membagikan hampers yang dia kirim supaya banyak yang icip dan siapa tau banyak yang order juga..pasti seneng banget yang kirimnya😘🥰💕

  9. Stefi Octafia

    Dlm pendapat sy sih, hantaran/hampers lebih ke bentuk perhatian atau tanda bagi kasih ke kerabat atu org2 terdekat ya. Dan gak mesti selamanya mesti “dibalas”, kita pun mesti yakin sih klo yg ngasi pasti iklas kok dgn ada/nggaknya balasan dr yg dikasi.
    Dan klo sy pribadi, hampers ya dikasi buat org terdekat, gak smpe mesti rogoh kocek dalam2, gak yg mesti wow juga, yg penting iklas dan berguna.

    Kalau skrg dikaitkan dgn unboxing lalu share pemberian orang, menurutku itu sama sekali bukan pamer yaa, itu justru tanda kita makasih utk perhatiannya si pemberi lwt hampers itu. Dan bagi sy pemberian begitu justru boleh diketahui byk org, sama aja kyk kita banggain/memuji temen kita kan..pahala buat dia yg udah ngasi.
    Orang yg ngeliatin mau iri/malah termotivasi ya itu balik ke diri mereka masing2 lagi. Saringannya ada di hati mereka, apakah ngeliat hal itu justru jadi dengki, pengen nyinyir atau ngatain, atau malah sama2 bersukacita, sama2 menikmati bahagianya org walau cuma lwt story.
    Semua hal klau dilihat dr sisi positif, pasti adaaaaa aja baiknya.
    Tp klo dikit2 udah negatif, aduh ngeliatin org bahagia dikit aja kok bawaannya panas, malessss, gak suka..dengki jatohnya.

  10. rudy satria

    hantaran itu sebenarnya sudah menjadi budaya di indonesia.tapi menurut saya tidak menjadi beban buat yg ngirim karena ikhlas.biasanya yg dikirim buat keluarga dekat dan juga teman teman yg sudah saat akrab dgn kita.atau bisa juga saling berbalasan.kita yg sudah dikirim hantaran wajib membalas hantarannya.jadi kuncinya adalah ihkhlas & hati senang🙏🙏

Leave a Reply