Seikhlasnya atau Sepantasnya? Part 1

posted in: Family | 14

Ramadhan. Bulan penuh kebaikan. Bulan dimana umat Muslim di seluruh dunia “berlomba-lomba melakukan amal ibadah.” Bersamaan dengan itu, semakin terbuka kesempatan untuk memberikan bantuan kepada saudara kita yang membutuhkan.

 

Niat untuk memberikan sumbangan (apalagi jumlahnya) sepenuhnya adalah hak dari yang bersangkutan. Makanya setiap ada permohonan penggalangan dana, ada kata-kata “seikhlasnya”. Tapi apa sih seikhlasnya itu? Dan bagaimana kaitannya dengan standar di masyarakat?

 

 

Sebuah kejadian lucu ingin aku share. Setiap ada ajakan menyumbang di platform online penggalangan dana, aku biasanya akan membaca dulu profilnya. Nah waktu sedang memikirkan berapa dana yang ingin disumbang, aku sembari melihat list donasi dan donator. Mendadak muncul nama seorang kenalan yang amat sangat berkecukupan, memberi donasi hanya beberapa puluh ribu saja. Haaaah…???

 

IYA SIH TAHUUU, NGGAK BOLEH BEGITU, NAMANYA JUGA SUDAH NIAT BAIK MAU MENYUMBANG DAN TOH MEMANG SEIKHLASNYA. Apalagi di bulan ini pasti banyak pengeluaran dan belum lagi imbas daripada virus corona. Tapi jujur deh, sebagai manusia, jadi terbersit pikiran seperti itu kan ya?

 

Kemudian merunut ke bawah lagi, aku melihat variasi angka. Beberapa nama yang aku kenal juga memberikan Rp 300.000, Rp 500.000, ada juga yang Rp 1 juta. Tapi menariknya, ada yang menyumbang 5.000 (mencantumkan nama pula). Di pikiran aku (yang saat itu lagi jelek, duh maafkan ya Tuhan), repot-repot amat harus melalui berbagai prosedur hanya untuk nominal yang lebih gede biaya transfer antar bank.

 

Kalau aku, persepsi mengenai angka sumbangan yang pantas adalah setidaknya sesuai tagihan saat makan di restoran. Ibaratnya kita bisa treat diri kita dengan angka sekian, kalau niat membantu yaa anggap saja malam ini makan di rumah dan uangnya untuk yang membutuhkan. Apalagi Mama aku selalu mengatakan, “orang tidak pernah akan jatuh miskin dengan berdonasi.”

 

Tapi itu persepsi aku. Balik ke kata seikhlasnya. Relatif. Di sisi lain, aku pernah membantu penggalangan dana untuk APD medis dan seorang teman dengan begitu mudahnya mentransfer 15 juta. Seorang teman lagi (yang sangat down to earth dan dermawan) pernah bercerita karena banyaknya donasi yang ia harus berikan, ia “hanya” bisa menyumbang 40 juta. Wow, bless them!

 

Kalau bicara ikhlas, yang menyumbang 40 ribu dengan 40 juta itu sama-sama ikhlas. Tapi karena mereka datang dari latar belakang ekonomi mirip, kenapa yang 40 ribu dianggap kikir sementara 40 juta dermawan? Artinya, memang ada semacam patokan.

 

Sepertinya perlu dibedakan kata “seikhlasnya” dengan “sepantasnya” ya? Ikhlas itu sangat personal dan SEHARUSNYA orang lain tidak usah nge-judge dan membanding-bandingkan. TETAPI kita hidup di masyarakat yang judgemental dan memiliki standar. Mereka yang berkecukupan akan dipersepsikan “sepantasnya” memberi (misal) minimum Rp 100.000 atau (misal) range angka Rp 300.000 hingga 1 juta.

 

Jadi mungkin lain kali kalau ingin memberi, selain kata “ikhlas” perlu mempertimbangkan juga kata “pantas”. Menurut kamu bagaimana?

 

 

*** GIVEAWAY ALERT! ***

*** mamudmaskin bagi-bagi THR! Ada 3 kartu Flazz dengan saldo @Rp 300.000! ***

*** Caranya simpel banget: Follow IG @mamudmaskin ***

*** Tulis komentar di kolom komen artikel ini DAN artikel setelahnya “Seikhlasnya atau Sepantasnya? Part 1” ***

*** Komen paling seru akan dipilih oleh admin dan diumumkan tanggal 31 Mei di Instagram @mamudmaskin. Hadiah langsung dikirimkan oleh MaMin ***

 

MaMin beserta keluarga mengucapkan Selamat Menyambut Idul Fitri 1441H. Mohon Maaf Lahir dan Batin.

 

14 Responses

  1. joy seon

    mamudmaskin emang top markotop, gercep (gerak cepat), & tepat sasaran dalam menghadapi masa pandemic ini😁

  2. Esti

    Baiknya sih yg ikhlas dan pantas,, tapi pasti ga semua org bisa dan pny kemampuan buat ngasi yg sepantasnya. Karna ada juga yg nyumbang sepantaasnya tapi ga ikhlas yg penting eksis org liat alias pamrih. Nah yg nyumbang dikit dia ikhlas tapi mungkin org lain liat nominal sumbangannya koq ga pantes amat ya.

  3. Ryan

    Yang pasti siy harus ikhlas ya ..
    Seberapa pun yang kita berikan tanpa keikhlasan akhir nya malah jadi kurang pantas terus.. hehehe

  4. Hana

    Menurut saya untuk memberi , harus ditambahkan dengan kata2 memberi yang terbaik. Dalam memberi disertai berbagai macam motivasi dan latar belakang.

    Latar belakang, motivasi dalam memberi itu, urusan masing2 pribadi. Dan diatas semua motivasi , latar belakang harus pula disertai dengan keikhlasan

    Dan akhirnya, sebelum memberi baiknya kita bertanya pada diri kita masing2

    Sudahkah yang terbaik kau berikan?

  5. alvianti vivi

    Assalamu’alaikum…
    orang yg rajin bersedekah akan mendapatkan keberkahan dlm hartanya..sbg mana hadits HR.Tirmidzi dijelaskan Sedekah tdk akan mengurangi harta.. selain itu byk sekali manfaat dr sedekah selain mendapatkan keberkahan harta,bisa menghindari mara bahaya,menyembuhkan sakit,dan byk lain nya..yg pasti dlm sedekah harus ikhlas & pantas sesuai dengan kemampuan..

  6. Yunita Sari

    Seikhlas vs Sepantasnya. Wah, aku baru ngeh kalau 2 kata itu bisa bersanding hehe. Menurutku kalau Ikhlas urusannya lebih vertikal ya kak, langsung kepada Tuhan. Sedangkan asas kepantasan sifatnya personal dan relatif, balik ke personalnya, terlepas dari mapan atau tidaknya ekonomi ybs. Jika orang tersebut baik dan kepeduliannya tinggi, otomatis donasinya ikhlas dan pantas sesuai profil, ga pakai PHP, ribet, dll 😁

  7. Merlin Dwi Rini

    Sukak banget deh sama artikelnya mam, jadi..kalo menurut aku pribadi nih,untuk masalah “Memberi” sesuatu ke orang lain yg lbh membutuhkan setuju bgt kalo di kasih embel2 “SEIKHLAS” nya,dgn harapan apa yg udah di keluarkan/diberikan oleh org tsb ke pihak lain benar2 didasari dari hati yg ikhlas tanpa paksaan,atau niat “PAMER” sdikit pun. Masalahnya gini mam,skarang tuh lagi viral juga org2 pada share ke media kalo mereka baru aja bantu org laen yg kesusahan dgn nominal gede bgt,dgn tujuan untuk di publikasi dan yg pasti berharap pujian jg dong jatoh nya. Kalo yg macam ini sih menurut aq ikhlas nya kyk kepaksa gitu kan mam,hehehe… Cuman ya balik lagi,ke pribadi masing masing orang juga,,karena sejatinya yg lebih tau niat pemberian dari seseorang adalah Allah semata. Trus,,untuk masalah “PANTAS” atau enggaknya sebuah pemberian,juga berdasar dari pemahaman tiap orang ya mam,karena pasti rata2 org beda2 pemahaman. Tapi,kita harusnya sebagai manusia harus memberikan sesuatu yg pantas diberikan kpd orang lain berdasarkan dari “KEPANTASAN” utk diri kita sendiri..jadi berilah sesuatu yg menurut kita itu juga baik utk kita. Inilah inti yg dimaksud dengan memberi dengan hati yang ikhlas sesuatu yg pantas untuk di berikan kepada orang lain yg sangat membutuhkan.

  8. Uly MZ

    Kalau aku pribadi, waktu niat mau nyumbang, udah pasti harus ikhlas dulu (kalau nggak ikhlas biasanya nggak akan nyumbang 🤪).
    Karena udah punya budget bulanan untuk menyumbang, aku merasa itu adalah nominal yang pantas buat aku.
    Nah, kalau ternyata dibulan itu aku ngerasa nggak ada yang perlu aku sumbang (ada donasi tapi aku nggak ikhlas juga akan ku skip), aku akan simpan untuk lain kali.
    Kalau ternyata malah numpuk, biasanya aku abis-abisin pas ramadhan.
    Ini caraku merasa paling aman untuk menghindari nggak ikhlas ataupun gengsi. Hehe.

  9. Cila

    Akhirnya ada artikel baru lagi setelah berkali kali baca tulisan ka Nad tentang hamil dan melahirkan🥰

    Wah…artikel ini nyentil banget ya mom…😊
    Kenapa setiap kita memberi atau berdonasi ada kata “Seikhlasnya” karena seberapa tulus kita mau memberikan bantuannya atau nominal uangnya,sedangkan kalau “Kepantasan”,kemampuan orang orang untuk berdonasi kan berbeda beda,pantas atau tidaknya bukan kita yang berhak menghakimi,karena donasi kita saja belum tentu benar benar ikhlas atau tulus dari dalam hati kalau masih mempertimbangkan pantaskah dari sisi status sosial kita dan khawatir orang lain akan menggunjing kita karena nominal yang kita berikan dirasa tidak pantas dg kemampuan dan gaya hidup kita.
    Bisa jadi yang kita lihat sosok sosialita yang memberi donasi dg nominal kecil dan kurang pantas untuk kita,beliau salah ketik angka atau kurang nol nya di belakang atau memang sudah ada budget nominal tertentu dan dibagi bagikan ke beberapa penerima donasi atau ke beberapa instansi sehingga donasinya terlihat kecil dibandingkan dg yang lainnya padahal mungkin jika dijumlah sama saja beliau memberi ratusan ribu atau puluhan juta. Atau ada orang yang memang ingin berdonasi tapi hanya bisa sedikit karena itupun sisa di rekeningnya yang biaya trasnfernya lebih besar tapi keinginannya itu sangat besar walau nominalnya kecil.
    Itulah mengapa kita lebih sering mendengar seikhlasnya,karena ikhlas itu tulus dr dalam hati. Perkara bahwa mencantumkan nama atau tidak,semua yang berdonasi saya rasa sebaiknya mencantumkan nama agar orang2 penerima donasi bisa mendoakan langsung dg nama mereka.
    Balik lagi,nominal yang dirasa pantas atau tidak menurut kita,jangan sampai membuat sedekah kita tidak ikhlas karena nanti malu kalau dilihat yang kenal karena ngasihnya sedikit atau karena status sosial tertentu jadi merasa jadi patokan minimalnya berapa. Karena yang ditakutkan adalah niat tulus kita tidak sampai dg sedekah kita,mangkanya seikhlasnya selalu dipakai,agar semuanya dimulai dan didatangkan tulus dari hati🥰

    Dr single mom yng baru ditinggal meninggal dan sedang mengandung 8 bulan dan merasa sedih karena belum bisa banyak berbagi di ramadhan tahun ini..kalau boleh saya minta doanya semoga lahiran saya normal dan lancar,baby dan mommy sehat juga semoga tidak ada baby blues..aamiin

      • Cila

        Terima kasih ka Yunita untuk doanya💕
        Semoga kaka dan keluarga selalu dilindungi Tuhan,sehat dan bahagia selalu❤

  10. Stefi Octafia

    Artikel yg menyenangkan utk dibaca.
    Sy pribadi bljr berbagi stlh masa gadis sy byk belajar dr sahabat2 muslim sy yg rajin bersedekah, mengajarkan sy lbh sering jg utk berbagi, apalagi stlh bekerja, bisa menghasilkan uang sendiri dan merasakan begitu byk berkat, yg rasanya berkat2 itu datangnya dr doa orang2 yg udah kita bantu.

    Bagi sy iklas dan pantas justru mesti jalan beriringan. Bukan hanya soal sumbangan “uang” tapi juga “barang”.
    Mama sy selalu blg, kalau mau kasi orang sesuatu, harus yg terbaik, jgn setengah2 apalagi jelek (kurang pantas)
    Sy pribadi cukup jarang memberi sumbangan berbentuk “uang”, dan sesekali menyumbang pun dgn pertimbangan yg masak2. Dgn gaji segini, kalau ngasi segini apa “layak”, apa “cukup” atau justru “kurang”. Tapi balik lg pasti ditimbang2 masalah iklas. Walau sedikit tapi kalo dikasi iklas, akan jauh lebih lega memberinya, tidak terbebani.

    Karena “menyumbang” itu sendiri bagi sy belajar iklas. Mengiklaskan sebagian harta kita utk orang lain, mengiklaskan sesuatu yg kita suka, utk diberi buat yg lbh butuh.
    Dan jika kita memberi, kita harus segera melupakannya. Tidak mengingat2 apalagi menceritakannya. Memberi dalam diam, anggap sebagai tabungan surga.

    Kalau dlm Katolik, “apa yg diberi tangan kananmu, jangan diketahui tangan kirimu”

  11. Stefi Octafia

    Artikel yg buat gatal pengen nimbrung.
    Sy pribadi baru bljr menyumbang sejak sy bersahabat dgn seorang teman sy muslim, dr dia sy bljr ttg sedekah, ttg berbagi, ttg memberi.
    Semakin skrg bisa kerja, menghasilkan uang sendiri, semakin tasanya terpanggil pengen “ngasih” walau gak byk. Sy lebih senang memberi dgn seiklasnya walau tak byk, tp selalu jg mikir kepantasan.
    Sy slalu ingat kt mama sy, kalau mau ngasih orang, hrs kasi yg terbaik, kita bagian yg buruk gpp. Jangan mau ngasih org kalau yg kita kasih gak baik, percuma jatohnya kan jd gak pantas.
    Iklas dan pantas mmg mesti jalan beriringan klo kita mau nyumbang sesuatu, baik uang atau barang. Tp balik ke individu masing2 yaa, krna gak semua org mampu mmberi yg pantas tp org itu iklas, ya gpp..memberi walau sedikit akan berguna bagi yg membutuhkannya.
    Ibaratnya kan, apa yg mau org lakukan kepadamu, lakukanlah begitu juga pada mereka.
    Kalau kita aja gak mau nerima barang kurang baik, kenapa kita mesti ngasi yg gak baik.
    Beda halnya klo nyumbangin uang, lebih je iklas. Sedikitpun bermakna bagi yg menerima. Daripada banyak tapi terbebani.
    Memberi sumbangan juga kita belajar iklas, iklas merelakan sebagian harta kita utk orang lain, iklas berbagi dan tdk mengingat lg apa yg pernah kita beri.
    🙏🙏💕💕
    Semoga semakin semangat berbagi💗

  12. rudy satria

    dalam memberi kita harus ikhlas tanpa melihat berapa yg diberikan orang lain.sedikit tapi ikhlas daripada banyak tapi gak ikhlas.jadi menurut saya juga sewajarnya dan sepantasnya yang harus diberikan buat sumbangan itu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *