Keguguran

posted in: Family | 10

Melihat postingan Chrissy Teigen yang kehilangan bayi yang dikandungnya hit me hard. Aku sendiri mengalami hal serupa tepat 3 bulan yang lalu, 1 Juli 2020, di usia kehamilan sekitar 15-16 minggu.

Tidak ada yang tahu aku hamil selain suami dan dokter. Karena usia aku yang sudah 40 tahun dan kondisi pandemi, kami berencana merahasiakan hingga kehamilan sudah cukup besar dan kuat. Selama itu aku dan suami memanggilnya Peanut, dan kami membayangkan bagaimana makin ramai dan serunya rumah dengan 5 anak! Ya, dari dulu aku bercita-cita punya keluarga besar. 6 bahkan adalah jumlah anak yang aku impikan sedari gadis.

Dalam kondisi pandemi, aku berusaha menjaga kehamilan sebaik mungkin. Olahraga, minum vitamin, rajin periksa ke dokter. Beberapa kali periksa hasilnya baik-baik saja hingga suatu waktu hasil tes keluar… dan ada indikasi kelainan.

Mendapati hasil demikian, hati aku hancur. Walau hanya suatu probabilita, tapi bagaimana kalau iya? Aku tidak bisa membayangkan merawat anak yang sakit. I am not that strong. Dan bagaimana dengan anak-anakku yang lain?

Aku berbicara pada kehidupan kecil ini di perut aku. “Peanut, kalau kamu sehat, tunjukin ya besok saat kita ke dokter. Tapi kalau kamu sakit, Mama serahkan ke kamu dan Tuhan yang terbaik. Mama ikhlas.” Aku tidak pernah akan lupa momen itu. Aku mengelus perut sambil menangis, and I swear, aku merasakan ada gerakan.

Keesokan harinya aku dan suami ke dokter. Bersimbah air mata, kami konsultasi dan membahas semua kemungkinan serta prosedur yang perlu dilakukan untuk mem-follow up hasil pemeriksaan tersebut. Memeriksa USG 4D, amniocentesis, dan lain-lain. Aku bilang pada dokter, aku pasrah pada apapun hasilnya dan tidak ingin melihat saat dokter melakukan USG. Masih terbayang-bayang gambar janin kecil di layar yang bergerak lincah beberapa minggu lalu.

Selama sekitar setengah jam dokter memeriksa dalam keheningan. Aku rapat memejamkan mata. Suster yang berdiri di sebelah aku mengelus lembut tanganku sambil sesekali menyeka air mata. Suami hanya duduk lemas. Aku mulai curiga saat alat yang biasanya mengukur detak jantung tidak bersuara. Dokter kemudian melakukan USG transvaginal.

“Sudah selesai, yuk kita pindah ke ruang konsultasi,” suaranya memecah keheningan.

Saat duduk ia mengatakan yang sudah kuduga. “Bayinya tidak berkembang. Jantungnya sudah tidak ada dan ukurannya sudah lebih kecil dibanding yang seharusnya.”

Aku semakin berderai air mata. This sweet little soul tidak mau merepotkan Mamanya. Merasakan dunia melalui rahim hanya beberapa saat saja hingga kembali ke Sang Pencipta.

Dokter membahas mengenai prosedur selanjutnya. Aku sudah tahu pilihannya. Aku pernah keguguran sebelum hamil Delmar di usia sekitar 12 minggu. Membiarkan luruh sendiri, minum obat, atau kuretase. Aku menjadwalkan untuk kuretase keesokan paginya. Malam ini minum obat untuk merangsang kontraksi.

Usai anak-anak tidur akupun meminum obat. Tapi di rumah aku sempat mengalami pendarahan hebat. Sepanjang malam aku ke kamar mandi setiap 15-30 menit dengan darah keluar yang sangat banyak. Suami yang tadinya terus menemani pun tidur kelelahan. Dari aku masih bisa jalan bolak balik kamar mandi dan membersihkan lantai yang berceceran darah, hingga sudah tidak ada tenaga untuk bahkan duduk. Jam 4 pagi aku tidak kuat dan tergeletak di lantai kamar mandi. Untuk seseorang yang cukup kuat dan biasa melawan rasa sakit, itu adalah pertama kali dalam hidupku dimana aku benar-benar merasa tak berdaya dan sempat ada ketakutan apa yang terjadi bila aku kekurangan darah.

Aku memanggil suami dan ia mengatakan saat menemukan aku berbaring dalam genangan darah, wajahku pucat dan mata mendelik putih. Akhirnya aku berhasil mengumpulkan tenaga untuk membersihkan diri dan ke rumah sakit tepat sesuai jadwal. Kami memang menahan hingga waktu yang ditentukan agar bisa langsung ke ruang tindakan dan tidak perlu ke UGD dulu. Terbayang ketakutan harus ke rumah sakit umum di tengah pandemi.

Setiba di rumah sakit, diperiksa kondisi, tes Covid, kemudian dianestesi untuk tindakan. Usai siuman, aku menunggu hingga sudah lebih kuat untuk bisa pulang.

Setiba di rumah. Aku berbaring di tempat tidur dikelilingi anak-anakku. Mereka yang baru tahu aku tadinya hamil, ikut bersedih kehilangan adik mereka. Perlahan aku memberitahukan keluarga lain. Teman-teman CommPassion juga aku beritahukan dalam perjalan ke rumah sakit karena seharusnya hari itu kami ada meeting. Namun keesokan harinya aku sudah bekerja seperti biasa. Karena menyibukkan diri adalah salah satu cara aku menghadapi duka.

Kehilangan janin dalam kandungan, pada usia kehamilan berapapun, bukanlah sesuatu yang mudah. Pasti ada rasa bersalah dan kesedihan yang menyelekit sampai ke hati. Tapi karena aku pernah mengalaminya dan usia aku yang sudah matang, aku bisa lebih rasional menghadapi ini. Kepada para Mama lain yang mengalami hal serupa, ini bukan salah kamu. Keguguran akibat kondisi janin yang tidak mungkin diselamatkan lagi, tidak mungkin bisa Mama hindari. I am sending you my thoughts, prayers, and love. Sesakit dan se-kosong-nya perasaan hati, yakini ini adalah jalan terbaik yang diatur oleh Tuhan, Sang Pemilik Hidup.

Akupun masih suka nyesek membayangkan seharusnya saat ini sudah sekitar 7 bulan. Seharusnya akhir tahun atau Januari 2021 aku menyambut seorang anggota keluarga lagi. Tapi setiap perasaan itu merasuk, aku kembali mengingatkan diriku betapa beruntungnya punya 4 anak yang sehat. Bahwa kehilangan ini sudah diatur Yang Maha Kuasa. Peanut hadir 16 minggu di rahim aku as part of his or her journey as a soul. Bicara his or her… sesungguhnya aku punya hasil lab yang menunjukkan jenis kelaminnya masih terbungkus rapih dalam amplop. Waktu itu kami merencanakan melakukan gender reveal. Sampai sekarang (dan mungkin seterusnya) aku tidak ingin tahu.

Ah sesungguhnya keinginan aku punya 6 anak terpenuhi. 4 anak sehat sempurna dan menjadi sumber kebahagiaan hari-hariku, dan 2 anak di surga. Peanut dan Pocket, you are always in my heart and my mind. Suatu saat kita akan bertemu ya. Mama love all my children, so, so much.

“Love you Peanut”

10 Responses

  1. Susan

    Sambil nangis ak baca ini ka nadya hugs ak juga baru kehilangan janin usia 7 Minggu ak berusaha kuat menghadapi ini…but I’m not that’s strong enough….kadang kalo lagi sendiri suka nangis …ya Allah semua pilihan mu adalah yang terbaik.. ikhlas karena semua adalah titipan…ini yang terbaik insya Allah….ka turut bersuka cita untuk Dede bayinya…insya Allah bayi yg tak berdosa jadi bidadari-bidadari syurga menanti ayah bundanya

    • mamudmaskin

      So kind of you. Salah satu obat saat sedang sedih atau “ingat” adalah kata-kata compassionate dari sesama Mama yang pernah mengalaminya. Peluk!

  2. Diah

    Dear Mba Nadya .. aku turut berduka dan kehilangan .. aku pun mengalami hal yang sama bulan Mei lalu, kehilangan calon buah hati pertama yang telah kami nanti 3 tahun .. tak ada tanda keguguran, tak ada.. hanya di jadwal konsul 12minggu aku dikabarkan hal serupa seperti yang mba nadya alami.. langit serasa runtuh, suami tak kuasa tahan tangis, di depan dokter aku berusaha tegar, menanyakan langkah apa yang harus aku lakukan. Sebagai seorang suami, suami ku memastikan sekali lg ke dokter di RS berbeda, namun apa daya Takdir Allah berkehandak lain, benar adanya calon anak kami sudah tiada. Sampai pada akhirnya proses kuretase selesai dan aku kembali kerumah aku baru tersadar apa yang telah terjadi, but it’s ok meskipun saat itu adalah titik terendah ku, aku dan suami yakin ada hal baik :’) dokter pun mengatakan, kalau pun bisa terselamatkan, ini akan menyiksa bayi nya,karena tumbuh nya tidak sempurna dan ini adalah yang terbaik dari Allah. Now, aku dan suami sedang dikasih rezeki lagi oleh Allah, kehamilan ku sudah memasuki 10 minggu, kehamilan pertama kemarin janin meninggal di usia 9minggu tp baru ketahuan di 12 minggu .. kehamilan kedua ini, setiap 2minggu aku periksakan, aku dan suami mengusahakan yang terbaik .. besok, aku akan periksa lagi mba, doakan ya mba nadya calon anak pertama kami ini diberikan kesehatan dan berkembang sempurna setiap minggu nya hingga berjumpa di persalinan, Aamiin . Doa dan dukunganku untuk kesembuhan duka mba nadya dan suami ❤️❤️

    • mamudmaskin

      Amin! Aku doakan kehamilan kamu lancar dan menyenangkan, hingga waktu melahirkan akan lancar juga dan bisa mendekap bayi sehat sempurna. Ya, itu yang menjadi rasionalitas aku saat sedang dirundung duka. Kalaupun ia bertahan, ini akan menyiksanya. Tuhan tahu yang terbaik. Salam hangat buat kamu sekeluarga.

  3. Tuti

    Halo kak nadia, aku juga pernah mengalami keguguran di usia kehamilan 12 minggu. Saat itu tentu saja cukup sedih buat aku, apalagi suami sedang dinas di luar kota sehingga proses kuretase tidak bisa mendampingi. Keguguran ini sudah hampir 7 tahun yg lalu, tapi selalu terasa seperti baru kemaren ketika mendengar cerita2 mengenai keguguran. Dan aku selalu takut bagaimana jika aku hamil lagi tapi mengalami keguguran lagi. Aku takut aku gak mampu.
    Saat ini aku sedang berusaha untuk hamil lagi, namun kondisi pcos yang saat ini aku alami membuat aku masih belum dikaruniai anak lagi. Dan aku mencoba untuk berdamai dengan hati ku, mungkin aku belum hamil lagi sampai sekarang karena aku belum ikhlas dengan semua yang terjadi. Terimakasih kak nad sudah menguatkan.

    • mamudmaskin

      Thanks for sharing and sending you positive energy semoga dimudahkan hingga bisa mendapat kehamilan yang sehat sempurna. Aku juga saat kuretase yang pertama (aku pernah keguguran setelah anak kedua), suami tidak mendampingi karena di kantor. Malah aku sedang membawa anak-anak saat kontrol ke dokter. Dokter memberikan obat dan aku pikir sudah bersih nyatanya belum, sehingga saat itu juga aku minta agar segera ditindak. Bagaimanapun, ada janin yang sudah tidak bernyawa di dalam diri kita adalah suatu hal yang membuat semakin trauma. Aku menunggu mba di rumah menjemput anak-anak kemudian baru dibius. Ah kalau ingat itu dan kehilangan yang kemarin, rasanya “nyiiit” di dada. Tapi support dari keluarga dan dari cerita-cerita seperti kamu ini sangat menguatkan.

  4. Shella Yemima Muntu

    Hai ka. Perkenalkan aku Shella (ig : @shellayemima ), aku mau cerita. Aku tau bagaimana rasanya ka, karena tgl 29 Agustus kemarin janinku sudah kembali ke pangkuan Tuhan, janinku sudah tiada di karenakan kelilit tali pusat. Aku sudah beri nama anakku, nama anakku Stevie Limpangau Kros, aku sudah beri nama semenjak dokter memberi tahu jenis kelaminnya laki laki pada saat USG di kehamilan aku 5 bulan. Stevie anak pertamaku dan seharusnya hari ini, tgl 4 oktober adalah hari HPL, seharusnya hari ini pertemuan pertama aku dengan Stevie, seharusnya Stevie di pangkuanku, seharusnya aku lagi mengasihi Stevie, seharusnya aku mendengar suara Stevie menangis bukan tangisan aku dan suamiku, seharusnya Stevie kado yang terindah untuk suamiku karena tepat Stevie lahir, suamiku berulang tahun. Aku suka bertanya kepada Tuhan, kenapa Tuhan ambil anakku. Aku masih terbayang lincahnya Stevie di layar USG beberapa minggu yg lalu (12 agustus), tp dengan itungan hari, Tuhan mengambil kembali anakku.
    Aku tau Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil. Aku pun tau Dia punya rencana yang indah buat aku dan suamiku. Aku juga tau Dia ga mungkin kasih ujian yang aku dan suami aku ga bisa lewati, tapi aku masih bertanya “kenapa Engkau ambil ya Tuhan”. Berat rasanya, hancur rasanya.
    Sampai saat detik ini aku masih merasa bersalah, dan sangat merasa bersalah, karena pada tgl 20 agustus aku merasa pergerakan Stevie berkurang, karena kemarinnya Stevie sangat lincah, karena panik aku hubungi suami aku yang saat itu sedang bekerja dan kami putuskan untuk ke bidan dekat rumah karena hari sudah malam dan dokter yang biasa kami kesana sudah tutup. Di bidan aku medengar detak jantungnya, aku sudah agak lega pada malam itu dan bidan berkata dengan usia kandunganku pasti gerakkan janin berkurang. Suami menyarankan aku ke dokter esok harinya, tp aku ga ke dokter, karena aku yakin Stevie baik baik saja.
    Ga ada firasat buruk apapun, di tgl 29 agustus, aku bangun jam 6 untuk buang air kecil dan aku melihat flek darah. Aku langsung memberi tahu suamiku dan ke bidan di dkt rumah. Di bidan aku ga mendengar detak jantung Stevie dan bidan membawa aku ke ruang USG dan memeriksa aku, tenyata aku sudah pembukaan 2. Suamiku di ajak keluar ruangan dan aku di rujuk ke rumah sakit terdekat. Suamiku ga memberi tau keadaan Stevie dan suamiku bersikap tenang. Perasaan aku ga enak, aku merasa pasti ada sesuatu. Tp suami aku meyakinkan aku tidak ada apa apa dan semua baik baik saja. Ketika di IGD rumah sakit dokter memeriksa aku dengan tidak berkata apa apa, hening dan keluar ruangan untuk berbicara dengan suamiku. perasaan aku tambah ga enak, pasti ada apa apa. Aku sudah merasakan kontraksi, suamiku menenangkan aku tapi aku bertanya terus bagaimana kondisi Stevie tp dia tetap berkata tidak apa apa.
    Pada saat aku merasakan kontraksi, suami aku menenangkan aku sambil menyanyikan lagu pujian gereja, beberapa menit kemudian suamiku menetekan air mata sambil berkata “Dia yang memberi, Dia yang mengambil sayang” ,di situ air mata aku ga ketahan sama sekali. Baru kali ini, aku ngerasain sakit yang ga ketahan, hati aku rasanya hancur sehancur hancurnya dan baru ngerasain perasaan bersalah. Sampai saat ini dipikiran aku cuma bisa berandai, andai waktu ke dokter dan di USG dan andai waktu itu aku peka mungkin ga akan terjadi.
    Aku berusaha untuk iklas dan yang membuatku tenang bahwa anakku sudah lebih bahagia di pangkuan Tuhan di surga dan pasti lebih bahagia disana di bandingkan dengan aku di dunia. Aku juga bahagia dia pasti langsung ke surga, dia seolah olah punya golden tiket untuk langsung ke surga tanpa harus melewati ga enaknya hidup di dunia.
    Sampai kapanpun Stevie ada di hati aku dan anak pertamaku. Aku bersyukur dan bahagia kamu (Stevie) sudah pernah jadi bagian di hidup aku, bagian dari tubuhku. Dan aku terima kasih sudah mengajarkan aku arti sayang itu apa, bersyukur itu apa dan hidup itu apa.

    • mamudmaskin

      Ya Tuhan… aku menangis membaca kisah kamu. I wish I could hug you because I cannot imagine what you went through. Aku saja kehilangan dalam usia kandungan 12 dan 16 minggu merasa berat dan momen tertentu merasakan rasa bersalah yang amat sangat. padahal ini bukan salah kita. Sama sekali bukan salah kamu. Tuhan sudah menggariskan pengalaman hidup Stevie demikian. Untuk merasakan dunia melalui kenyamanan rahim kamu. Cukup selama itu yang soul-nya butuhkan. Kalau Tuhan sudah mengaturnya demikian, nothing we can do to change that. Doa aku untuk Stevie di surga yang menjadi guardian angel kamu, dan doa untuk kamu dan suami kamu yang hebat. God bless you.

  5. Amalia retno daliati

    Saya ibu 4anak dan 1 yang hidup…saya 3x keguguran semua dg usia 2,5bulan..anak pertama saya alhamdulillah hidup dg sehat dan bahagia…mulai kehamilan yng kedua ditahun 2017 saya mengalami keguguran karena abortus incomplete ,yang ketiga 2017 blighted ovum,yang keempat 2019 jantungnya sudah berhenti….awalnya saya seakan2 bertanya,,,kenapa?koq bisa?padahal saya dan suami insya alloh sehat….sulit menerima awalnya,,,,,karena dr awal kehamilan ke dua suami menyarankan saya untuk pulang kerumah ibu saya biar saya ada yang bantu mengurus anak pertama tp saya kekeh tidak mau….keesokan harinya saya mengalami pendarahan hebat yg diharuskan dilakukan kuretase….serasa penyesalan terdalam rasanya…bbrp bulan kemudian saya dinyatakan positif hamil lg saat itu suami meminta saya pulang,langsung saya pulang kerumah ibu saya tp alloh berhendak lain lagi janin didalam rahim saya tidak berkembang hanya ada plasenta saja langsung dilakukan kuretase krn sudah ada perdarahan…karena setelah kuretase saya tidak kb bbrp bulan kemudian saya positif hamil lg….seperti kehamilan sebelumnya saya selalu mengalami perdarahan,sudah periksa rutin,bedrest total,penguat kandungan,obat untuk menghentikan perdarahan semua sudah dilakukan tp alloh berkehendak lain lagi waktu dicek usg transvaginal jantung si janin sudah tidak ada lagi….akhirnya kami memutuskan untuk melakukan KB dahulu sembari pandemi usai….kami percaya setiap ada duka pasti ada suka….kami harap ketiga amin kami yg nantinya insya alloh akan jadi tabungan akhirat kami….

    • mamudmaskin

      Amin ya Allah. Kalau Tuhan memberikan ujian, terkadang rasanya bertubi-tubi ya, tapi pasti ada hikmah atau sesuatu yang perlu kita pelajari di balik semua itu. Yang pasti, jangan merasa bersalah. I know it’s easier said than done. Akupun kadang ada rasa guilty… seandainya, seandainya, seandainya… tapi itulah hidup ya. Kehilangan membuat kita semakin mensyukuri apa yang kita miliki. Thanks for sharing dan semoga di waktu yang tepat menurutNya, Mama mendapatkan kehamilan yang sehat dan lancar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *