Simbiosis Mutualis Endorsis – part 1

Simbiosis Mutualis Endorsis, sis!

Hi Sis, eh Mama Muda Masa Kini,

Ah setelah kemarin bersedih-sedihan mengingat keguguran yang aku alami, aku mau cerita yang lucu-lucu saja.

Jadi aku sedang membuat podcast, namanya KOCOK dan bisa Mama dengarkan di Spotify, Anchor, Google Podcasts, Apple Podcasts, dan platform podcast lain. Kenapa namanya KOCOK? Karena ini adalah nama buku best seller yang aku dan sahabatku, Joy Roesma, tulis di tahun 2013. Buku ini tentang arisan dan Insya Allah sedang dipersiapkan untuk menjadi film atau web series.

Podcast KOCOK sudah tayang 4 episode, dan yang terbaru berjudul “The Age of The Influencer.” Kita membahas tentang para influencer, KOL (key opinion leader), blogger, vlogger, content creator… apapun istilahnya. Dari keseruan, kiprah, hingga kelakukan beberapa oknum yang nggak banget. Salah satu hal yang dapat mencoreng profesi ini adalah permintaan untuk endorsan.

Ada yang nembak minta segala macam hal secara gratis, ada yang menjual barang endorsan tersebut, ada yang posting endorsan suatu brand namun beberapa saat kemudian posting endorsan kompetitor.

Hei, siapa sih yang nggak suka endorsan? Tapi ada lho tata kramanya. Kan diharapkan yang mengendorse ini adalah influencer yang memiliki pengaruh positif, bukan yang menyebar virus negatif. Itu sih namanya influenza, hachoo.

Di sisi lain, kadang kalau kita diminta untuk endorse bisnis kenalan, suka dilema ya. Apalagi di masa pandemi, semua sedang merintis usaha dan berusaha… pasti kita pengen support. Tapi kalau banyak banget, ya males juga media social kita jadinya kok jualan banget? Kamu sendiri sudah berapa banyak hayo yang minta di-review di DM? Atau kenalan yang sudah lama tidak jumpa mendadak WA kamu minta mencoba dagangannya?

Aku pribadi (dan yakin banyak banget yang sama) sebisa mungkin mendukung usaha teman-teman. Jangankan endorse, aku bakal beli dan posting tanpa diminta… apalagi yang memang enak atau sudah jadi langganan. Tapi kalau banyak yang nggak kenal minta bantuan di DM, di situlah suka bingung. Di satu sisi pengen bantu UMKM, di sisi lain nggak tahu juga kualitasnya. Kita kan pengen posting yang menurut kita patut disebarluaskan. Belum lagi kalau berbicara profesional, setiap influencer itu ada yang namanya “rate card”. Kalau semua diposting gratis, yang selama ini kerjasama berbayar bisa protes dong.

But anyway, namanya juga sukarela. Kalau sudah mulai melakukan salah satu dari 4 hal ini, gengges banget nggak sih? Apakah kamu pernah mengalaminya? Atau jangan-jangan kamu sebagai penjual pernah melakukannya? Hiii, jangan dong. Nih ya, aku kumpulkan kejadian yang bikin endorsis nggak simbiosis mutualis


1. Maksa!

Ugh, begini ya gaes. Namanya kan minta tolong, sebaiknya bersabar saja menunggu yang mau menolong ini sedang santai. Tidak semua orang selalu on dan siap tampil depan kamera setiap saat, lho.

Orang yang bersangkutan ini kan sudah berbaik hati mau me-review, bikin video, dan upload, ya sebagai balasan kita bersikap manis saja dan jaga mood-nya. Tidak ada yang lebih nyebelin ketika bolak balik diingatkan dan diteror, “sudah foto/video belum?” “kok belum posting?” “kapan mau diupload?” bisa-bisa mood-nya buyar dan hubungan pertemanan kita jadi terganggu.

Kalau ingin mengingatkan, coba pilih kata-kata lain seperti: “sorry, just checking makanannya sudah sampai belum ya? Kalau sudah, hope you enjoy it!”, atau “sudah sempat coba makanannya? (or sudah coba pakai bajunya?) Please minta feedbacknya ya. Aku selalu berusaha meningkatkan mutu.” Atau “really appreaciate kamu mau review. Pendapat kamu means a lot.”

Kerendahan hati seperti itu dan tanpa unsur pemaksaan akan membuat orang simpatik dengan kita. Emoji senyum yang tulus juga akan membuat permintaan posting semakin mulus.

2. Bayar.

Orang buka lapak di grup WA zaman sekarang adalah hal yang wajar. Seru malah! Pasti ikut nge-list nama, transfer, list lagi bukti bayar (banyaaak ya list-nya), kirim gojek. Itu kan bentuk kita mendukung bisnis teman.

Yang kurang elok adalah setelah itu semua, si penjual menodong minta posting. Apalagi jika diantara pembeli itu ada influencer yang punya rate card. Begini… kamu jualan kan sebagai sumber penghasilan. Nah bagi para influencer, postingan berbayar itu adalah sumber penghasilan mereka juga.

Dalam bisnis ada yang namanya budget promosi. Kalau memang mau ada konten endorsan, ya dari awal sudah diniatkan. Kalau tidak ada budget untuk membayar sesuai rate card mereka, ya kasih saja produknya dan harap si influencer benar-benar suka dan ingin mewartakan secara sukarela.

3. Ngelunjak.  

Dikasih hati minta jantung. Mungkin si penjual beruntung mendapat pembeli baik hati yang lolos poin kedua (sudah beli kemudian bersedia posting), ya syukurilah. Jangan setelah itu ngelunjak minta tag atau tulis segala macam hashtag. Apalagi jangan kemudian minta orang itu kirim foto atau video tersebut! Apalagi minta insight! Hello, kecuali kamu bayar sesuai rate card.

Kan kalau dia tag kamu, bisa kamu repost lagi. Banyak aplikasinya. Kalau kelewatan di story, yah salah kamu dong bisa ke-skip. Ohya, jangan lupa minta izin ya kalau mau kamu taro di feed.

4. Nggak enak.

Namanya orang jualan, harus yakin dulu dengan kualitas barang yang dijualnya. Kalau ternyata makanannya nggak enak, baju jahitannya nggak rapih, atau apapun itu… ya sebagai penjual harus gracious untuk menerima itu sebagai input yang membangun.

Aku pribadi pernah beberapa kali diminta review makanan yang menurut aku kurang enak. Hmm, kalau sudah begini, biasanya aku posting packagingnya saja tanpa kata-kata pereuz. Atau japri honest review ke si penjual. Masa mau merekomendasikan ke followers aku sesuatu yang aku nggak doyan?

Lucunya nih, ada saja lho yang nggak terima kritikan.


Aku sih kepikiran 4 poin itu saja guys. Ada yang lain yang gengges yang pernah kamu alami? Tulis di kolom komentar yaa!

Pada dasarnya, orang mau bantu kok, asal tidak merepotkan dan dilakukan dengan pendekatan yang tepat. Nah habis ini aku mau share tips tentang bagaimana cara menjaga relasi agar orang (baik kenalan maupun yang tidak kenal atau bahkan profesional influencer) mau endorse produk atau jasa kita. At the end of the day, pengennya kan sama-sama happy, alias simbiosis mutualis, sis!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *