Simbiosis Mutualis Endorsis – part 2

Hai Mama Muda Masa Kini,

Kalau masa kini, pasti Mama punya bisnis yang tengah digeluti. Kalau punya bisnis, pasti ada dong pengalaman seputar menggunakan jasa endorser.

Endorse atau endorsement artinya adalah dukungan atau pengesahan. Jadi kalau ada yang mengendorse bisnis kita, artinya orang tersebut memberikan testimoni bahwa ia cocok dan ingin agar orang lain mengetahuinya.

Aku baru saja posting di Instagram feed mengenakan lounge wear dari WAD Studio dan tas dari Mooze. Di caption aku tulis bahwa aku mempromosikan kedua brand tersebut secara sukarela. Padahal kalau seseorang menganggap dirinya influencer, pasti ada rate card untuk hal tersebut.

Lalu kenapa orang mau posting secara gratis? Well, kemungkinannya dua: memang bukan influencer atau si brand tersebut sukses mempraktikkan kiat-kiat di bawah ini.

Berbisnis itu kental urusan interpersonal. Walau yang dijual adalah barang atau jasa, yang beli kan manusia yang punya perasaan, mood, karakter, dan cara-cara untuk pendekatan.

Wahai para UMKM dan pemilik bisnis, coba intip tips berikut:


1. Memang teman.

Salah satu teori persuasi oleh dr. Robert Cialdini adalah “liking” atau suka. Kita pasti mau support usaha milik keluarga, teman, atau orang yang kita suka.

Makanya… banyak-banyak punya teman, dan banyak-banyak berbuat baik. Pasti one day orang lain mau berbuat baik pada kita.

2. Memang bagus.

As simple as barang atau jasa yang dijual bagus, sehingga siapapun yang experience, ingin berbagi kepuasannya.

Tidak hanya sekedar kualitas produk/jasanya, tapi keseluruhan pengalamannya. Dari saat enquiry, memesan, after sales, hingga follow up complain.

Hal paling fatal dalam berjualan adalah berdebat dengan customer. Ingat, customer is King! Kalau ia complain makanannya kurang asin/manis/banyak, segera catat dan kalau perlu, lakukan tips no.3.

3. Freebies.

Manusia mana yang tidak senang gratisan? Heiii pasti suka dong! Kalau syukur-syukur dapat influencer yang mau barter posting dengan produk (tidak keluar biaya sesuai rate card), nah jangan hitung-hitungan kirim barangnya. Mesti royal mumpung ada kesempatan! Kalau misal bikin kue 7 rasa, ya kirimkan tujuh-tujuhnya!

4. Fotonya bagus.

Liking the product is one thing. Making a photo good enough for your feed is another. Tidak semua orang lho camera-ready setiap saat, not even professional influencers.

Seorang teman yang memiliki bisnis face shield bercerita, ada seorang artis yang terkenal hitungan. Tapi entah kenapa, si artis ini mau posting menggunakan face shield tersebut secara sukarela. Kenapa? Simpel… fotonya pas kece.

Jadi kesimpulannya apa? Ya kali deh ada fotografer on standby yang bisa dikirim untuk foto si influencer. Kalau memang kenal cukup baik dan tahu jadwal kerja atau hang out-nya, bisa diberikan saat ia sedang beraktifitas. Artinya kan make up, rambut, dan busana sudah on, sehingga lebih pede saat difoto.

5. Tidak memaksa.

Seharusnya ini tips nomor 1 saat pertama approach calon konsumen/influencer, tapi sengaja ditaruh di paling akhir karena inilah koentji dari segala koentji.

Tidak ada yang suka dipaksa. Kalau dari awal DM influencer dengan “barter produk dengan postingan” dijamin DM tersebut bakal dicuekin kecuali si influencer memang ada kebutuhan barang yang kamu tawarkan.

Coba buka pembicaraan dengan informasi personal dan bukan permintaan. “Hai kak, salam kenal. Aku perhatikan kakak suka tanaman ya? Aku ada plant nursery dengan banyak pilihan tanaman yang akan cocok di balkon kakak. Kalau kakak tertarik, silakan pilih beberapa dari feed aku, nanti akan aku kirimkan. Have a nice day ya kak!”

Enak ya bacanya. Pertama, si plant nursery ini memperhatikan kesukaan si influencer. Kedua, dan paling penting, ingin memberikan tanaman tanpa embel-embel. DM seperti ini akan berpeluang lebih besar untuk direspon karena disukai (poin 1). Gratis pula! (poin 3). Tinggal kirim barang dan berharap ia memang cocok (poin 2) dan ada foto yang bagus (poin 4). But trust me, kalau sudah terlanjur suka karena 3 poin awal dipenuhi, si influencer pasti akan effort untuk mendapatkan foto bagus!


What do you think dengan 5 tips barusan? Aku merangkum dari pengalaman sebagai seorang konsumen, influencer, sekaligus juga penyedia barang dan jasa. Harus mencari titik temu yang enak antara kedua belah pihak. Simbiosis mutualis, sistur! Kalau titik itu sudah ketemu dan hubungan sudah terjaga, kamu tidak hanya saja mendapat endorsan, tetapi mendapat a loyal customer.

Selamat mencoba!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *